Thursday, November 13, 2008

Between ‘mak jegagik’ and ‘mak bedunduk’ - Need no subhead

Dua kosa kata Jawa yang sangat ekspresif.
‘Mak jegagik’ dan ‘mak bedunduk’ sebenarnya mempunyai nilai keterkejutan yang nyaris sama. Yang membedakan hanyalah dimensi ruang di sekitarnya.
‘Mak jegagik’ adalah keterkejutan sesaat ketika berhadapan dengan obyek lain secara sontak dan frontal, dan keterkejutan tersebut berpihak pada subyeknya.
‘Mak Jegagik’ mempunyai efek turunan yang bernama ‘mak tratap’, yaitu kejadian yang membuat jantung dienjot-enjot sepersekian detik sebelum dilepas ke kondisi normal.

Sementara pada ‘mak bedunduk', obyek dengan cepat berubah menjadi subyek yang mempunyai kontrol penuh terhadap penampilannya yang mendadak. Dia mampu mengatur speed dan appearance. Mau dissolve, slow motion atau fade in terserah dia.
Kehadirannya bisa seperti hantu yang tau-tau nongol sosoknya di tempat yang dia kehendaki…. mak bedunduuuuuuuuuuuuk.

Dan inilah produk ‘in between’ versi kami.


Sebuah proyek kolaborasi yang tidak terlalu mengejutkan, tetapi juga tidaaaak terlalu bisa diprediksi pemunculannya.
Kolaborasi tiga profesi yang dijungkirbalikkan dari fungsi-fungsi normalnya.
Film Director yang biasa ‘dealing’ dengan motion picture, kok ya menghentikan gambar-gambarnya menjadi foto.
Creative Director yang ‘dituduh’ art based (visual based kali ya…), kok ya mendadak menjadi penulis.
Dan ini yang aneh, Pengusaha Restoran kok ya ngedisain grafis. Disainnya maut pula…

Proyek kolaborasi yang mengandung titik dua (:)
80% nekat
20% narsis (okelah, aktualisasi diri)
1% magic
Lhoh, jadinya 101% dong?!
Emang kenapa?

Inilah proyek kolaborasi selama 1.5 tahun yang membuat saya menemukan orang-orang yang mempunyai passion di dunianya, di lapisan layar yang paling belakang dari sebuah panggung pementasan.
Proyek kolaborasi yang membawa saya menonton Bedhaya Dhirada Meta ke Teater Salihara untuk merasakan aura magis yang luar biasa.
Proyek kolaborasi yang membuat para tetua yang saya hormati berkenan datang ke Palalada Grand Indonesia.
Proyek Kolaborasi membuat Oom Sonny Soeng rela menutup kafenya di malam minggu semata-mata untuk merilis proyek ini ke komunitas yang amat menyenangkan di Bandung.

Proyek kolaborasi yang munculnya mak bedunduk…dan bergerak diam-diam seperti setan.

I wouldn't end my steps at this point anyway. Not before I could describe the color of fresh water - (page 08)

Saya bahagia. Belilah! Belilah!

6 comments:

dita.murningtyas said...

saya ikut berbahagia...
Congrat untuk lauching bukunya ya mas...

kapan dong aku ambil bukunya?
di mana dong ngambilnya?
...bonus tandatangan penulis kan?? hehhehe

mister::G said...

hehee iya

Anonymous said...

disain grafisnya maut, fotonya maut, teks-nya mautz.
melahirkan kedalaman yang... subtil.

selamat! ndherek bingah pakde eh pak g :)

gendhuk girli

AnakAyamHilang said...

saya juga ngikut bahagiah... [sambil mupeng]

selamat yah oommmm.... ^___^

Anonymous said...

that's what u called : For All Happiness In Life, rite?
when the work becomes routine, it comes to a point again :)
so what next? let's see another point in March.. or April? hmm May??

trijatapatricia said...

hhhmmmm... selamat ya omm, pakde,eh paklik, ups apa ya (bingung mo pangil apa).
tapi itulah bakat, he..he...

lam kenal