Thursday, September 20, 2007

“John Lowbatt Power’s crap” – early morning trap

Seorang teman –pengusaha bisnis media – mengirim pesan Adium :
o/o : “Kok Kopilova nggak pernah diupdate?”
x/x : “Sik yo..”
o/o : “Ngantuk tur ngelih ki, gak ada bacaan…”
(padahal di status Adium saya tertulis SATE BABI DAN SEBOTOL HEINEKEN – tapi toh percuma, dia puasa)

Pesan tambahan teman tadi bilang agar saya nulis yang lucu karena katanya dia sedang lemah mental. Udah lemah, mental pula.
Walah… hidup saya sudah sangat wagu untuk membuat hal-hal lucu.
(untuk yang nggak ngerti istilah bahasa ibu kami, ya maaf)

Yang bisa saya lakukan cuma mentertawakan kebodohan diri sendiri, paling tidak masih ada cara menghibur diri.

Suatu hari (halah, openingnya aja udah nggak lucu!) di Hotel Four Seasons Singapore menjelang meeting waktu saya masih baru-barunya menjadi Creative Director (emang sekarang jadi apaaaaa? Jadi guyon!).
Dari hari kemarinnya saya sudah diwanti-wanti sama Managing Director yang bule itu untuk jangan sampai terlambat bangun pagi, dan biasakan datang ON TIME.
Maka menjelang tidur saya pesen kepada si Mas Morning Call (itu lho suara yang membangunkan pagi-pagiiiii sekali di telpon) untuk membangunkan saya jam 6:00.
Tibalah waktunya turun untuk makan pagi di coffee shop, dan memastikan bahwa hari itu bahasa Inggris saya akan lancar (ada hari-hari tertentu dimana bahasa Inggris saya macet, meskipun saya pernah sekali seumur hidup terbukti sukses memarahi CD bule sambil menuding-nuding hidungnya).

Nah, terjadilah awal ‘petaka’ pagi itu.
Lha kok ndilalahnya, begitu masuk lift di sana ada pak Michael Conrad – Worldwide CD yang akan memimpin meeting nanti.
Pucet seketika.
Saya terjebak dalam basa-basi haha hihi dan pak Conrad menyeret saya untuk makan pagi semeja sambil nanya ini itu.
Hadoooh…

Seketika saya ingat iklan John Robert Powers yang menawarkan table manner dan pelatihan kepribadian – yang menurut saya hanya berlaku buat orang-orang yang tidak punya kepribadian, atau malah berkepribadian ganda.
Di atas meja ada sekian banyak sendok garpu dan pisau cutlery yang seketika menjadikan saya sangat ndeso.
Serbet saya tebarkan di pangkuan saya (semata-mata karena saya ingat Mister Bean saat makan), celingukan sedikit ke kiri kanan.
Nah…salah kan?
Ternyata saya belum ambil makanan! Mau ngremus piring? Asu tenan, pagi-pagi udah salah, gimana nanti siangnya?
Saya ambil sekenannya sambil menunggu pak Conrad yang berjas rapih duduk di seberang saya.
Dengan hati-hati saya memotong telor mata sapi - yang meleset kesana-kemari saking licinnya – dengan pisau dan garpu.
Tinggal makan aja susahnya minta ampun, apalagi mencari makan?
Tertolong bahasa Inggris yang lumayan lancar, saya mampu ngobrol dengan pak Conrad.
Mendadak saya lihat si Pak-e yang rumahnya di Frankfurt ini mencomot makanannya dengan telapak tangan dan mengemploknya begitu tanpa menggunakan jurus John Robert Powers sama sekali.

o/o : “This is the way I enjoy my meal. I am sorry” katanya.

Ealaaah…mbok ya bilang dari tadi kek, kan saya bisa duduk jegang di kursi. Kalau gitu aja mah situ pasti lebih ndeso.
Situ nggak tau SGPC kan?

Thursday, July 19, 2007

Kitsch Cam – Sugar? One or two?

Beberapa bulan belakangan ini saya semakin heran dengan pemandangan di seputar saya. Siang-siang jam makan banyak yang menghilang ke toko kamera. Bergantian mereka membelanjakan 10-20 juta rupiah untuk sebuah kamera digital, hanya karena “teman sebelah sudah punya seri terbaru”.
Ah, ternyata saya salah.
Gejala seperti ini ternyata banyak terjadi juga di kantor teman-teman yang lain, dan di kantor temannya teman-teman yang lain. Menyerang seperti wabah, menghidupi toko-toko kamera yang melayaninya sampai seperti restoran cepat saji – dibikin paket harga hemat dengan lensa standar atau body only yang cenderung membingungkan mereka yang sebenarnya duitnya tanggung.
Tapi mungkin yang penting kan menenteng kamera kemana-mana, bikin klub dadakan atau ikut kursus-kursus instant (yang membuatkan bisnis baru buat pengursus) tentang bagaimana mengukur cahaya dan exposure.
Euphoria….
Berlomba-lomba ikut lomba atau berburu bareng memotreti perempuan setengah, tigaperempat, lima perenam atau seratus persen telanjang dengan dalih berkesenian. Ini modus operandi lama!
Mungkin ini yang dulu disebut Pak Umar Kayam sebagai ‘kitsch’, seni yang dikemas. Dipaket-paketkan, dijual eceran atau dipamerkan dengan upacara-upacara populer.
Yang mengenaskan, seorang teman di kantor lain nggak boleh ikutan hunting karena kameranya cuma pocket kecil Canon IXUS. Pokoknya harus SLR yang lensa yang panjang-panjang nyeruduk sana-sini. Hadoooh…
Ada lagi kubu-kubu nggak penting, pemakai Nikon dan pemakai Canon bersitegang saling mengunggulkan barang masing-masing. Hah, ‘barang masing-masing’?
Nggak penting banget deh pokoknya.

Seperti beberapa tahun lalu, gejala yang lain juga pernah terjadi.
Ada kelompok tertentu yang kemana-mana membawa stick golf di bagasi mobilnya, atau paling tidak membuat gaya berdiri yang berbeda dengan seolah menggenggam grip dengan benar, swing dan bing-bang!
“Driving yuk…”
Whooaa… gayamu, jancuk!
Ternyata belum berani turun ke green.
Ternyata masih pleyat-pleyot belajar mukul (atau menggengam?) yang benar to?
“Asu tenan. Kemlinthi !” kata sesama teman sedaerah asal –yang belakangan saya tahu ternyata dia ikut-ikutan juga.


Untung saya nggak main golf sehingga nggak bisa kemlinthi.
Untung saya cuma main kamera untuk menangkap obyek yang menurut saya menarik untuk dimasukkan ke dalam framing, diekspos, diedit, sebagai perpanjangan naluri berkesenian kecil-kecilan. Obyek yang saya terjemahkan sebagai texture dan gesture, karakter dan komposisi, gelap dan terang, kemeriahan warna dan kepucatan sifat. Tidak lebih dan tidak kurang.
Kamera yang cuma saya surukkan di ransel dan baru terpakai setelah sekian lama mengamati obyek dengan mata telanjang.
Mencoba membuat batu yang tidak menarik menjadi lebih dari sekedar batu. Mencoba menangkap isi hati penjual pioh (daging penyu) di Petak Sembilan setelah nanti dagangannya habis. Mencoba menangkap jatuhnya bayangan pada kaki pilar sambil membayangkan seolah-olah diri saya berada di Austria sana, atau menggaris bayangan jendela yang terabaikan dengan memberi kontras warna yang sebenarnya sudah diberikan di sana. Things like that lah… Leica anyone?

Friday, July 13, 2007

Simply Objective – It’s about pouring thing…

Mbak D.O – seorang human resources director sekaligus membawahi general affair (termasuk menghandel affair-affair di kantor – bahasa opo to iki?) geram sampai gemetaran masuk ke ruang meeting manajemen sebuah ahensi (agency-red).
“Can we talk about this matter?” katanya berapi-api kepada managing director Swedia.
“Yooo…what matter? We are discussing about our revenue now” jawab si Swedia.
“Have you observe our toilet bowl lately?” si mbak makin sengit.
Si Swedia heran, apa yang terjadi dengan toilet? Dia tau sih kalau si mbak barusan pamit dari ruang meeting untuk ke toilet.
Lalu si mbak seperti biasa berbicara meledak-ledak.
“Itu ya… para laki-laki kalau nggak bisa kencing lurus mendingan jadi banci aja!”

Semua yang mempunyai penis saat itu menoleh serentak ke arah si mbak.
“Yo’opo to?”
Muka si mbak masih merah. Dia menjumput risoles sebelum meneruskan protesnya.
“Para lelaki di kantor ini nggak mau mengangkat dudukan toilet, langsung aja kalau kencing cuuuur….belepotan kemana-mana. Jijik tauk…!!!”

Semua yang mempunyai penis serentak tersipu girang (kombinasi aneh, tersipu dan girang). Si mbak semakin antusias.
“Makanya kalau nggak bisa lurus, dipotong aja!”

Sebenarnya protes si mbak beralasan sekali. Waktu itu toilet kami hermaphrodite (satu lubang dipakai laki dan perempuan maksudnyaaa…).
Alangkah tidak enaknya para wanita yang harus duduk di toilet dengan pantat lengket-lengket kena flek bekas kencing para lelaki sekantor.
Kalau disiram dulu kan pantatnya jadi basah dan dingin.
Pilihan yang sangat tidak enak : kering lengket atau basah dingin?

Esok harinya si mbak menyebar email dengan kekuasaannya sebagai direktur HRD tentunya.
Membuat peraturan tentang tata cara dan tata krama menggunakan toilet khusus ditujukan oleh kaum berpenis (meskipun dia bukan lelaki – ndak penting to?).
Kurang puas dengan email, dia tempelkan peraturan itu di pintu toilet (ambiant media hahahahaaa...)
Celakanya….oalah mbak…mbak… peraturan itu dicoret-coret, diplesetin kata-katanya (terbukti bahwa plesetan adalah bagian dari budaya negeri ini), yang membuat si mbak kembali berang dan membawa isu itu di meeting menajemen bulan berikutnya.

Belakangan di negeri tetangga.
Di sebuah urinoir lelaki (nulisnya gimana sih, ntar diprotes kalau salah eja) di Asia Pacific Videolab di tempel stiker yang mengatasnamakan komunitas penunggang Harley Davidson (atau Harson Davidley?), ada logonya segala :

“We aim to please. So please aim properly”

Setiap kali ke tempat itu selalu ingat si mbak. Ternyata sama saja. Para pemilik penis memang kurang ajar (regardless mereka lelaki atau bukan).
Dasar orang iklan, udah jelas objective-nya simple, diminta kencing lurus kok ya masih diputar-putar eksekusinya, huh! Terbiasa mikir complicated!
(Melengos and … cut!)

Wednesday, July 04, 2007

“Wet towel on the bed” – spilled robusta

“The beauty of staying in the hotel is….” begitu seorang film director yang mobilitasnya tinggi membuka pembicaraan yang langsung saya potong.
Saya tahu yang dia maksud. Saat kita meninggalkan kamar, semua dalam kondisi berantakan. Bathrobe di lantai (lho kok di lantai?), handuk di kursi, remote control entah di mana, celana terbang ke atas telpon dan sebagainya, dan sebagainya.
Pergi ya pergi aja. Dan sore hari begitu kita masuk kamar lagi, semua tertata bersih. Linen putih halus dengan matras yang kayaknya ambles kalau ditiduri (baca : ‘matras’ yang ditiduri –red), bathrobe sudah digantung di kamar mandi, handuk-handuk sudah baru, kamar berbau segar (baca : ‘non smoking room’ – red), bantal mengundang untuk ditiduri (baca : ‘bantal’ –red) dengan kuncup bunga teratai atau mawar putih di atasnya. Dududududuuuuuu…. deh pokoknya.

Padahal…
Ibu saya dulu selalu menjewer anak-anaknya kalau kami meninggalkan handuk basah di atas tempat tidur sehabis mandi dan berrr…pergi begitu saja. Dan kejadian itu terulang terus hampir setiap hari sampai kami dewasa.

Ya tapi begitulah mungkin esensi dari bisnis layanan, setelah dapat kamar, tinggal suks-suka, diberantakin, yang penting tidur lelap. Kalau toh ada yang ngerapiin ya itu tugas house keeper lah…

Apakah house keeper bisa tidur lelap?

Lelap kan merek obat untuk tidur berkualitas, paling tidak begitu kata iklannya. Kalau Diapet obat diare. Nah kalau Merit (slim : bhs. Jw) obat pelangsing. Terus apa hubungannya dengan handuk basah?
(Siapa bilang ada hubungannya?)

Menghubungkannya adalah… begitu banyak merek yang dibuat sedemikian gamblang menceritakan benefitnya, bahkan secara brutal menyingkat benefit itu menjadi merek. Diapet dari kata ‘diare mampet’, misalnya. Antangin short cut dari anti masuk angin. Atau Kurang Asem, Jesscool (anjrit!), dan sebagainya.
Ada satu merek namanya Geliga (saya lupa itu apa), singkatan dari ‘geli-geli juga’?
Mungkin suatu hari ada merek Meringis, Monyong, Kupret, Semut, Kerokan dan lain-lain yang siapa tahu beneficial buat produknya.
Terus bagaimana mengkomunikasikan agar merek itu tumbuh? Ya, itu tugas agency untuk menyingkirkan handuk basah, menyampirkan bathrobe hingga memberi sentuhan akhir bunga di atas bantal.
Pemilik merek kan penyewa kamar, yang menyewa berdasar klasifikasi jasa layanan dan harga.
Pernah ada seorang klien yang datang ; “Saya punya uang 2 milyar buat bikin produk pembersih lidah. Saya beri nama Tangkliner” (Tongue Cleaner – nah lo…ada lagi kan singkatan-singkatannya hehehe, dibilangin gak percaya).
Pak klien tadi tidak memikirkan sampai kapan mereknya akan dikembangkan. Bagaimana dia mikir, lha wong dia cuma mau invest 2 milyar aja kok. Begitu balik modal ya sudah, sukur-sukur laba dikit.
Tangkliner dibuat dengan stainless steel, berupa pelat tumpul yang melengkung huruf U, mengingatkan kita pada peralatan dokter-dokter jaman dulu yang dibakar dengan spirtus sebelum dipakai.
Dalam waktu dekat, merek-merek penerbit pasta gigi membuat produk sejenis dari plastik yang dijual jauh lebih murah dibanding stainless teel.
Bagaimana uang pak klien yang 2 milyar itu? Embuh!

Munghkin begitulah nasib merek-merek spontanitas yang tidak didisain hidup untuk jangka panjang, sehingga teori brand building nggak laku diaplikasikan. Yang laku adalah teori taktis berkelit mlintir elastis.
Bahkan beberapa merek sengaja dibunuh di perjalanan begitu melihat market mulai jenuh, dan si pemilik modal membuat merek baru, mungkin di kategori yang baru pula.

Dan para house keepers dengan rutin melakukan tugasnya, mengganti handuk basah yang ditinggalkan, mengganti linen bed spread yang lebih putih, menggantungkan bathrobe ke tempat semula, membuang kondom bekas (kalau ada) dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi semalam, menyiapkan bantal biar tetap fluffy, dan memberikan sentuhan bunga di aatasnya. Agar si penyewa jasa tinggal dengan nyaman dan hidup suka-suka.

Agak siangan sedikit, para house keepers akan mengetuk pintu untuk melengkapi isi mini bar, menambahkan coklat atau permen penambah gairah sambil bilang : “Have a good day, Mister”.

Ngomong-ngomong permen, teman saya seorang copy writer pernah mengajukan usulan merek permen yang spektakuler bernama : UNTALEN (telan dengan paksa).
Kapokmu kapan.

Wednesday, May 30, 2007

"Adfest, salmon and chicken masala" - The most boring thing

Masih terngiang di benak saya beberapa tahun lalu, sewaktu seorang teman – pemilik agency di Jakarta- dengan berang berkata : “Masa’ sih kita nggak bisa menang di sini? Malu banget gue”.
Dia mengucapkan sambil mengunyah salmon yang mungkin terasa aneh di lidahnya, dan sesekali menyeruput Chardonnay yang mungkin lebih terasa aneh lagi.
Peristiwa itu terjadi di gala dinner Adfest, sebuah perhelatan komunitas intelektual advertising di garis regional Asia-Pacific, mulai dari Jepang ke New Zealand, dan dari Vietnam ke Srilanka di ujung sana.

Kepala teman saya tadi terus menggeleng-geleng sambil mengeluarkan kata “Masa’ sih” itu berulang kali. Pokoknya penuh gerundelan dan gerutu.
Setelah saya risih dengan ulahnya dan karena saya juga kepengin menikmati salmon aneh karena harganya yang 500 USD dengan alih-alih ikut Seminar dan sebagainya itu, saya bilang kepadanya :
“Makanya lu juga ikutan ngirim entry, siapa tahu menang”
Saya tahu persis teman saya itu tidak mengirimkan entry apapun, karena semua teman di industri ini mahfum kalau bisnisnya berada pada situasi ‘survival’.

Bagaimana bisa mengirim entry ke forum seperti Adfest kalau yang ada dibenaknya hanya billing yang cepat-cepat bisa ditagih ke klien untuk menggaji beberapa karyawannya, sementara kualitas outputnya dinomor sekiankan.
Mungkin nasib kawan saya tadi kurang beruntung.

Atau, barangkali nasib saya lebih beruntung. Paling tidak saya tidak perlu memikirkan bagaimana menggaji karyawan karena sayalah salah satu karyawan itu, sehingga sebenarnya lebih mempunyai peluang untuk menang di forum seperti Adfest. Yang celakanya hal itu tidak pernah terjadi.

Dari waktu ke waktu saya diam-diam mencatat dan membisikkan catatan saya itu ke tim internal saya di agency.
1. Bahwa eksekusi tidak kalah penting daripada ide. Sebuah keyakinan yang banyak ditentang teman-teman komunitas periklanan sendiri di Jakarta, yang sebenarnya tidak begitu saya pedulikan sampai akhirnya mereka mengakui sendiri betapa ide besar akan nihil tanpa didukung eksekusi yang prima.
Sayangnya pengakuan itu terjadi di Adfest tahun berikutnya. Jadi, ya tetap saja kalah.

2. Bahwa ‘size does matter’. Sebuah strategi mensiasati juri bahwa display print ad dan poster yang berukuran besar akan lebih dilihat dibanding dengan menempelkan proof print apa adanya di atas selembar karton yang ‘kiwir-kiwir’.
Beberapa teman di agency multinasional sangat menyetujui hal itu, karena mungkin itulah yang diajarkan oleh forum CD Meeting di network masing-masing.

3. Bahwa subtitle untuk entry TV adalah sesuatu yang amat penting, mengingat komposisi Juri yang sangat beragam bahasanya, dan jangan pernah mengagungkan bahwa Bahasa Indonesia akan gampang dimengerti di sana.

4. Bahwa bahasa visual dan simplicity adalah kesempatan untuk mengambil hati Juri, meskipun sewaktu saya menjadi Juri di sana sempat ada komentar : “I miss a long copy ad”, yang hanya disambut dengan senyum Juri-Juri lainnya.
Celakanya ketika hal itu dilempar di milist, timbullah dikotomi antara copy based dan art based, sebuah polemik yang memboroskan enerji.

Semenjak komunikasi berubah tidak lagi massal dan ide dikembangkan dari potensi medianya, maka Adfest menjadi lebih menarik.
Eksplorasi contact point sebagai media menjadi seru dan menggelitik, membuka perspektif pemikiran penggunaan media-media baru seiring perkembangan bisnis media itu sendiri.
Aktifasi brand menyusul sebagai fokus pembahasan di Adfest berikutnya, meninggalkan media konvensional.
Print sesekali masih menakjubkan, TV belum kehilangan pesonanya, namun lihatlah Adidas dengan Flying Soccernya mendadak menimbulkan efek “Blar!” yang mengejutkan.

Efek “Blar!” itu jugalah yang mewarnai beberapa entries Adfest 2007 bulan Maret lalu dan seketika membuat print/poster menjadi sangat dingin dan tidak menarik.
Memenangkan metal dari single print tahun ini saya rasa bukan sesuatu yang sangat aspiratif – meskipun toh tim saya juga tidak memenangkan apapun – dibanding misalnya dengan apa yang dilakukan oleh batere Panasonic dengan enerji pesawat terbangnya.
Kebesaran sebuah kampanye tidak lagi dilihat dari ‘piece by piece’ penggunaan media, tetapi dilihat dari totalitas cara mewujudkannya menjadi sebuah grand event, grand activation.
Passion kreatif tidak lagi dari ide seorang art director bersama partner copy writernya dalam sebuah single print ad, tetapi pada gagasan merealisasikan menjadi sebuah proyek besar yang punya gaung membuat sebuah perubahan yang tidak kalah besarnya dengan proyek itu sendiri.
Proyek yang akhirnya sangat tergantung pada passion seorang Project Leader untuk direalisasikan sebelum keburu basi tidak tereksekusi.
Proyek yang membukakan perspektif baru tentang sebuah pola pemikiran dalam mengkomunikasikan produk yang jauh lebih advance dibanding dengan mengiklankannya dengan cara-cara lama.
Situs seperti YouTube sekarang menjadi situs tempat mengintip bagaimana merealisasikan sebuah proyek besar, dibanding situs iklan-iklan cetak yang di forum Adfest Maret lalu menjadi ajang duplikasi sekian banyak ide yang cenderung membosankan.
Kekecewaan saya berujung pada kategori radio (selain TV yang tidak begitu hot, dan kekalahan saya untuk yang kesekian kali, tentunya!), di mana dan entah kenapa radio yang semula saya berharap bisa unik karena diversifikasi bahasa, ternyata tidak lebih dari pembacaan skrip yang datar dan melupakan kaidah-kaidah audio yang dimilikinya.
Menang di kategori radio Adfest tahun ini sungguh tidak lebih membanggakan dibanding menang di forum lokal.

Seandainya teman saya yang dulu menggerutu hadir di bulan Maret lalu, mungkin dia akan saya seret ke restoran India “Alibaba” di pinggir jalan daripada membanjiri gala dinner Adfest yang terhormat dengan sumpah serapah yang tidak jelas. Paling tidak di restoran “Alibaba” bisa menikmati chicken masala yang enak dengan segelas besar bir untuk mendinginkan kepala masing-masing.


Gandhi Suryoto, untuk Addiction

Wednesday, May 23, 2007

“Giggling after Googling” – Get Stoned!

Entah kenapa saya percaya begitu saja ketika seorang teman bilang bahwa batuan mineral yang cocok buat saya adalah Amethyst – sesuai dengan karakter dan kelahiran saya. Hualah, karakter!

Celakanya kepercayaan itu sudah berlangsung lama. Bahkan sejak jadi mahasiswa seni rupa sudah ada semacam hobby hunting batuan yang berwarna ungu itu.
Mencoba membuat tafsir tentang kedalaman ungu yang misterius itu, seperti membuat review sebuah lukisan yang sebenar-benarnya tidak pernah saya pahami secara utuh.

Terus terang warnanya mengagumkan.
Dan karakternya itu lho :P

Sampai minggu lalu datanglah sebuah konfirmasi :
x/x :“Tapi kayaknya your birth stone bukan Amethyst deh, tapi Diamond”
o/o : “Hah?”
x/x : “Don’t hah me”
o/o : “Heh?”
x/x : “Nah, apalagi heh me”

Sik to. Sik to. Bentaaaar…
Tak cari di Google sebentar.
Nah iya! Amethyst itu Pebruari. Kalau April itu Diamond. Wuaaa….

So, my dear Boss,
I just found that my birth stone actually is diamond.
That’s why I am expensive laaah….

(Emploken!)

Thursday, April 05, 2007

::Dear Mister Langdon:: - Viva Cryptology.

Kalau Anda senang mengenakan kaos oblong Yogya ‘Dagadu’ yang terkenal itu, jangan pernah berpikir untuk terasosiasi dengan mata indah mengerjap-kerjap, berbinar menggetarkan, seperti tampilan visual logonya.
Bisa jadi Anda yang bukan ‘Yogya Asli’ – promonya memang terkesan rada rasialis :p – tidak tahu bahwa sebenarnya Anda sedang dimaki, atau memaki seseorang

Berawal dari bahasa sandi para preman dan kaum bromocorah di Beringharjo, ShoppingCenter, Bausasran, dan daerah ‘favorit’ lainnya, mereka menciptakan dialog yang tidak dimengerti sembarang orang kecuali komunitas gelap mereka untuk memperlancar operasi jahat.
Tetapi terbukti bahwa faktor intelegensia menentukan kerahasiaan terminologi bahasa yang mereka pakai akhirnya bocor diketahui umum.
Atau mungkin juga karena komunitas Yogya yang sangat mingle dengan tingkat akseptasi tinggi membuat hal yang seharusnya konfidensial menjadi cair secair-cairnya. Mbleber luber basah semua.
Bahasa gelap itu menjadi sapaan bersahabat bagi setiap orang di angkringan, pos ronda, warung gudeg di trotar sepanjang jalan atau (maaf) di daerah remang-remang.

Terbukti bahwa sebenarnya bukan Jacques Suniere atau Robert Langdon saja yang tahu cryptology. Adalah para preman dan bromocorah (baca : gali) yang bisa membuat Langdon ‘pecas ndahe’ (mudah-mudahan Anda tahu artinya) dengan kriptologi lokal yang membolak-balik hingga belok struktur huruf dan ejaan Jawa.

ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga

Adalah struktur normal dan waras. Yang oleh mereka dijungkir menjadi

pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga
ha na ca ra ka
da ta sa wa la

Sehingga sebenarnya ‘Dagadu’ awalnya adalah ‘Matamu”
Tetapi jangan buru-buru senang karena ‘Matamu’ diucapkan sebagai ‘Matamu!’ satu level dengan ‘Asu!’, ‘Mbahmu!’, ‘Dengkulmu!’, ‘Ndasmu!’ dan bagian tubuh lainnya, yang merupakan kata-kata makian.

“Leygi poya, dab?”
“Sacilat, poya padha bil paru”
“Bubudhe tene…”
“Dagadu!”
“Hallaaah…jape-methe”

(How was that Mister Langdon? You will be ‘mlukok’, I believe)

Terlepas dari makian atau bukan, kata ‘Dengkulmu!’ ataupun ‘Dagadu!’ tidak pernah diucapkan secara serius-dalam konteks memaki yang sebenarnya.
They don’t mean it.
Never!

Di Yogyakarta, kata-kata itu adalah makian friendly, seperti halnya menepuk pundak teman yang lama tidak bertemu. Bagian dari hospitality…ehm. Seperti penjaga took di Melbourne yang ramah menyapa :’Where you from, mate? You’re look a bit dark…”
(Ndasmu. Bilang aja kamu kok item sih?)

Yang jelas tidak demikian dengan Yogya.
Lagi pula, siapa sih yang tidak mencintai Yogya? Cieeee….Swiit Suiiiit….

(Brought to you by Yogyakarta Tourism Board. Haiyaah…dagadu!)

Friday, March 23, 2007

“Energi itu bernama Initiative Ad” - Full story

Hampir bisa dipastikan entry CP tahun 2007 akan dijejali dengan begitu banyak ‘initiative ads’, terutama di kategori print.
Ini bukan ramalan tahun baru.
Atau mungkin tidak usah menunggu terlalu lama sampai CP 2007, pergilah ke Pattaya bulan Maret ini dan lihatlah di sepanjang koridor exhibition hall The Peach (Pattaya Exhibition and Convention Hall).
Kita akan segera tahu mana yang iklan beneran dan mana yang iklan sulapan.

Beneran ataupun sulapan sebenarnya dalam forum-forum semacam ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Namanya juga ajang kreatifitas.
Namanya juga fashion show adi busana – haute couture. Di sisi lain toh legal dari segala persyaratan administratif – termasuk membayar, tentunya.

Tiga tahun lalu seorang anggota Juri Adfest di tengah diskusi yang memanas tiba-tiba berkata : ‘I smell scam’.
Semua diam dan tersenyum.

Barangkali terlalu capai kalau kita membicarakan terus yang mana scam yang mana initiative, atau apa perbedaan scam ad dan initiative ad. Tidak akan pernah habis dibahas di milis, situs internet atau forum diskusi terbuka lainnya.

Maka, sebaiknya mari kita lupakan saja perbedaan itu.

Initiative ad sebenarnya bermula dari ketidak puasan, rasa geregetan, proactiveness atau bahkan agresifitas sebuah agensi terhadap agensi kompetitor (termasuk tim kreatifnya tentu) yang hasilnya ‘begitu-begitu saja’ untuk brand yang dirasa menarik. Sehingga harusnya komunikasinya bisa jauh lebih menarik.
Sebuah proposal inisiatif kepada klien agensi lain yang isinya “kami bisa lebih baik dari agensi Anda yang sekarang”, yang ujung ekspektasinya adalah “biarlah kami yang menangani Anda – pecatlah agensi Anda sekarang”.

Initiative ad adalah bagian dari new business task force yang show off – dalam konteks bisnis tentunya. Yang kesuksesannya diukur dari billing yang berpindah ke agensi yang punya inisiatif dan perasaan geram dari agensi yang disudahi karena ‘begitu-begitu saja’ tadi.
Sehingga dengan demikian initiative ad mempunyai akan reputasi yang semakin lebar skalanya dalam perkembangan bisnis agensi berikutnya.
Tim internal akan membuktikan bahwa “kami memang lebih baik” dan lihatlah Mister Client, kami membuat portfolio untuk brand Anda dengan sebaik-baiknya. Begitu banyak pencapaian yang kami buat untuk Anda termasuk award di sana-sini. Bukankah terbukti bisnis Anda berkembang juga?
Silahkan memajang trophy yang kami peroleh di ruang meeting Anda, atau di meja kerja Anda untuk membuat Anda selalu bersemangat (dan tidak lupa kepada agensi kami tentunya).

Sungguh ideal seandainya itu bisa terjadi.

Dalam perkembangannya, initiative ad adalah senjata sakti untuk mengelak approval klien karena toh mereka dibebaskan dari segala kewajiban finansial.
Sebuah representasi dari win-win situation yang masih adil dan sekali lagi sah untuk dikirim sebagai entry di forum sebuah kompetisi. Dan sah pula untuk menjadi pemenang yang membawa pulang trophy.

Hanya saja kalau kita cermati beberapa tahun terakhir dan mungkin satu-dua tahun ke depan di forum kompetisi kreatifitas periklanan akan semakin dipenuhi dengan initiative ads seperti yang saya tulis di awal artikel ini.
Saya menganalogikannya seperti sebuah war game yang sering dimainkan di komputer-komputer di sela-sela pekerjaan.
Kalau peperangan yang kita mainkan semua menggunakan senjata sejenis Steyr Gun, bukankah perang akan menjadi terlalu mudah?
Apakah Anda tidak kangen dengan semangat senjata manual, tiarap di lumpur, atau masuk ke barak musuh dengan kamuflase jerami kumuh namun dengan kemampuan membidik yang akurasinya 100 persen?

Sampailah saya pada bagian yang subyektif di tulisan ini.
Bahwa initiative ad seperti yang saya maksud belakangan tadi adalah forum penyegaran yang tidak boleh dimatikan karena di dalamnya begitu banyak elemen positif; update, inovasi, passion, simplicity, ide segar, grafis, penggunaan media dan segala aura terang lainnya.
Yang akan semakin solid eksistensinya jika mampu membukakan mata hati klien (atau calon klien?) terhadap pemikiran baru.
Yang akan terbuang percuma dan terlupakan dengan segera kalau tidak ditindak lanjuti menjadi bisnis riil yang akan memuliakan seluruh kehidupan di agensi dan kemuliaan kreatifitas dengan potensi yang terkandung di dalamnya tadi, meskipun yang bersangkutan –dalam hal ini adalah si initiative ad tadi- memenangkan sebuah atau beberapa penghargaan.

Sementara dalam kenyataan keseharian kita, yang namanya membuat iklan yang baik penuh dengan penolakan, argumentasi, kefrustrasian serta ‘darah, keringat dan airmata’.
Tetapi sekali saja kita membuat pencapaian terhadap iklan yang baik – tidak peduli di forum award manapun, barangkali rasanya akan jauh berbeda dibanding initiative ad kita meskipun sama-sama membawa pulang trophy.

Konon award winning ad(s) adalah pencapaian total dari sekian panjang perjalanan iklan yang telah membuktikan dirinya lolos dari ‘terjangan badai internal dan eksternal’.
Seperti halnya main war game dengan semangat senjata manual, bukankah ini sebuah eksotisme ?

Lantas apakah salah dengan memenangkan award melalui initiative ad?
Tidak ada yang salah. Karena award winning yang sebenarnya adalah spirit untuk membuat iklan yang sebaik-baiknya. Bukan masalah trophy.

Hanya saja barangkali rasanya beda saat menerima penghargaan itu. Barangkali beda.

(Gandhi Suryoto, untuk Addiction)

Wednesday, March 21, 2007

“Sunday Night Show” – don’t ‘mmmpft...’ while you drink

(Pernah nonton Newsdotcom di Metro TV, Minggu malam jam 21:30 kan?)

Suatu hari teman saya seorang Executive Creative Director agency lain (hebat bener pangkatnya, pasti kalau traveling selalu di kelas Eksekutif deh :P), menelepon saya sewaktu saya sedang di jalan :

o/o : “Halo…lu di mana?”
x/x : “Di jalan, lagi menuju ke kantor”
o/o : “Lu nyetir sendiri? Bisa ngomong nggak?”

(Naah yang begini nih bedanya, kalau Executive Creative Director emang selalu disopirin rupanya. Padahal buat saya “Driving is Believing” you knouuuw… dan bukankah dia juga sama-sama pakai SUV, masa’ sih harus disopirin?)

o/o : “Itu… bekas CD gue dulu –bule - kan baru balik ke Jakarta. Dia bikin iklan itu (foto di atas). Rupanya banyak kontroversi, banyak yang tersinggung gitu, sampai-sampai mau pada meeting ngomongin iklan diskriminatif itu. Kalau menurut lu gimana, soalnya gue musti ngasih jawaban ke dia tentang reaksi temen-temen. Nah menurut gue, lu kan orangnya obyektif… ”

(Bule. Kontroversi. Tersinggung. Meeting. Diskriminatif. Obyektif)

Nah inilah jawaban saya versi Sunday Nite Show 21: 30 :
“Kalau saya sih gampang ajaa…
Ngapain juga harus tersinggung, lha wong agency juga bukan agency punya saya atau kakek saya kok.
Lagian kalau memang outside of the box mbok ya dikasih lihat mana buktinya. Kalau iklannya begitu sih buat saya cuma narsis-narsisan aja.
Outside of the box itu kan pendapat orang lain, masak ya kita ngaku sendiri kalau kita pinter. Narsis amat.
Lagian kalau memang terbukti mikirnya selalu outside of the box, ngomongnya pasti nggak akan begitu.
Bule emang nggak ngerti kalau padi itu semakin berisi akan semakin menunduk. Ngertinya kan cuma gaji bagus, fasilitas bagus, apa-apa gratis.
Gitu aja kok rapat…. Eh, repot!”

o/o : “Oke deh, gue setuju sama elu”

Monday, February 19, 2007

“Meneketehe” – chicken porridge on the rain

Entah siapa yang mengarang judul itu, yang jelas saya perlu sehari telmi untuk memahaminya.
Manakutahu?

Meneketehe ini juga yang tahun lalu bikin miss prediction.
Dua hari sebelumnya tetangga belakang rumah mengundang untuk datang makan malam merayakan Imlek.
Sebagai tetangga baru, wajar dong mempersiapkan diri.
Pokoknya harus datang proper, menghormati yang mengundang, menghargai pluralisme golongan-ras-agama-suku (GRAS).
Lagian, undangan ini pasti spesial, makan malam menjelang tahun baru Cina. Pasti interiornya merah dan emas-emas gitu. Lilin-lilin besar yang eksotis dikelilingi warna orange jeruk Mandarin dari tanah asalnya.
Dan fine dine dengan sup hisit, steam fish dan tender slices of Peking duck kayak Crystal Jade …..nguing…nguiiiing…
Prosperity Nite.



Maka seperti di film-film, terpilihlah sebotol wine terbaik untuk dibawa malam itu sowan tetangga belakang rumah, pakaian terpantas untuk dikenakan dan persiapan hati untuk ikut merayakan.

Lho kok?
Kok sofa-sofa di keluarin ke garasi bercampur bangku-bangku bakso di sela-sela speaker besar-besar? Padahal mendung lho Koh…
Lho kok tuan rumahnya pakai kaos oblong dan celana selutut? Ah pasti belum sempet mandi karena kesibukan.
Maka duduklah kami bersama tetangga lain termasuk Pak dan Bu RT di rumah itu, menghadap layar TV besar sambil mengunyah kacang atom.

Semakin malam, tidak ada tanda-tanda yang punya rumah berganti baju merah menyala yang sangat etnis itu.
Malahan menyodorkan album lagu-lagu karaoke sambil menyuruh pembantunya mengeluarkan hidangan makan malam : bubur ayam.
Aneh, tidak ada dekorasi sama sekali di rumah megah ini.
Tidak ada jeruk Mandarin di rumah sebesar ini.
Kok nggak ada Peking duck ya...
Meneketehe…?

Bubur ayam kami makan dengan sukacita, tapi karaoke?
Karaoke adalah salah satu kegiatan yang paling saya hindari, lebih baik saya ikut lomba balap karung daripada karaoke.
Bukan kenapa-kenapa sih.
Tapi lagunya itu lhoh. Kalau nggak “My Way” ya pasti “Kemesraan” kan?.
Maka dengan segala hormat, kita berdoa dan makan aja ya Koh…

Tepat sesudah pergantian malam, kami pulang basah kuyup kehujanan. Tapi bukankah hujan adalah signal kemakmuran?

Kemarin hari Sabtu menjelang Imlek, jam 23:30 saya masih di jalan pulang dari rumah teman.
Undangan tahunan tetangga belakang terpaksa tidak bisa kami penuhi.
Tadi sore rencananya akan datang sih, tapi meneketehe jalanan diguyur hujan lebat begini
Tapi ah ini kan symbol kemakmuran tahun depan.

Di jalan, saya kok tiba-tiba kepingin makan bubur ayam.
Gong Xi Fa Cai ya Koh, Cik…

Wednesday, February 07, 2007

“Slippery Tongue” – No ice cream, please


Tahun 80 an, seorang mahasiswa salah satu akademi di Yogya terpaksa berurusan dengan polisi karena di sebuah acara kampus, dari atas panggung dia mengatakan : “Wismilak hirrahmannirrahim”.

Layaklah dia diborgol!
Siapapun pasti setuju bahwa itu plesetan yang sangat keterlaluan!
Tetapi itulah gejala epidemi yang nggak sembuh di Yogya waktu itu. Dan saya pikir dengan pindah ke Jakarta situasinya berbeda.
Ternyata itu cuma dugaan, sampai ketika dua minggu lalu saya akhirnya pergi ke Ojo Lali di Kemang Timur atas referensi Agus (mulai menyebut nama nih…)
Ojo Lali adalah tempat bikin sofa yang sering dipakai bikin props para PH, maka saya tanyalah si Mas yang di sana :

+/+ :“Mas, bisa bikin sofa?”
#/# : “Sofa so good” jawab si Mas spontan.

Wuahahahaa….Blaaaar….!
Saya merasa berada di Wirobrajan dan sekitarnya, menemukan habitat asal tempat saya dibesarkan secara akademis sekaligus psikologis.
Di sana nggak heran kalau tukang becak, tukang sayur sampai anggota DPRD menggelincirkan lidah. Semata-mata untuk me’rileks’ kan urat nadi kehidupan, demi mencairnya social gap.

(Tapi ini di Jakarta bukan?)
Buat yang berbahasa Inggris dengan benar, mungkin nggak ada yang salah dengan kalilmat si Mas tadi. Tapi saya tahu yang bersangkutan tidak bermaksud berbahasa Inggris, karena yang dimaksud adalah ‘so far so good’.
Makanya, ‘sofa so good’ mencairkan transaksi harga bikin sofa. Kami lantas ‘nyang-nyangan’ – tawar menawar dengan bahasa ibu. Yang berakhir dengan kekalahan dia dengan harga murah yang diberikan. Salah sendiri bisnis di Jakarta kok nyari gara-gara, kan?

“Rugi lu Mas..”
(Rugi Choirudin?)

Plesetan - terlepas itu menyebalkan (buat orang Yogya tetap menu pembicaraan sehat seperti gudeg, menu untuk hidup waras) yang tanpa mengenal Muchsin - ternyata terklasifikasikan menjadi beberapa kasta kecanggihan :

#1. Level Master.
Level ini punya tingkat kesulitan paling tinggi karena hanya memelesetkan satu huruf (ingat, SATU huruf !). Apakah itu vokal atau konsonan tidak jadi masalah (malah pelajaran bahasa ?!).
Level ini pada awalnya dikuasai oleh orang-orang yang kurang kerjaan, yang dalam perkembangannya dijadikan sebuah pekerjaan, dan akhirnya dipelajari oleh para pekerja.
Semakin tipis sebuah kata atau kalimat diplesetkan, semakin tinggi kasta orang yang bersangkutan.

Contoh conversation :
Orang Jawa memaki dengan kata ‘Asu’ (anjing).
o/o : “Asu!”
x/x : “Asu cinta padamu…heuheuheu”

#2. Level Sub Master.
Level ini biasanya lebih lucu karena mengacu pada bunyi kalimat/kata yang bersangkutan. Semacam rhyme (rhyme sepeda?), yaitu bunyi akhir dari sebuah kata atau kalimat.
Seorang teman selalu bilang bahwa plesetan udah nggak Muchsin.
Anda bisa tahu, kasta apa teman saya itu.
Padahal saya tidak mengastakan apa-apa kepada Anda, bukan?

Pada sebuah preproduction meeting resmi dengan klien, si film director bilang bahwa kolamnya nanti akan diisi dengan kiambang (teratai -red).
Lidah saya yang sangat gatal waktu itu nyeletuk spontan :
“Kiambang kromong?”
Meskipun semua tertawa, tapi sampai sekarang saya masih menyesal mengatakan itu :P
Ayah saya kalau masih ada pasti akan bilang :
“Bocah kok ora ngerti toto kromo!”

Ya, tapi begitulah.
Ciri-ciri plesetan di kasta ini adalah spontan, gampang dimengerti dan punya tingkat ‘itchiness’ yang tinggi.

#3. Level Sub Master Digital (mulai ngawur..!)
Kasta ini sering bersifat asosiatif, menghubungkan kata yang dipelesetkan secara situasional. Buat mereka yang nggak nyambung dengan gaya bahasa plesetan, semakin nggak nyambunglah dia.

Contohnya begini :
o/o : “Psttt…ada anak Bandung”
x/x : “Pasti waktu kecilnya sering dimarahin ayahnya”
Naaaaa….bingung kan, padahal yang dimaksud adalah ‘badung’.

Dasar nasib, orang-orang penganut plesetan di level ini sering dibilang Garing, meskipun dia belum pernah bikin film.
(Bingung bingung deh…:P).

#4. Level Wonebi (Sadao Wannabe)
Orang-orang di kasta ini hidupnya kurang beruntung, karena kemampuannya pas-pasan sehingga setiap usaha memelesetkan sesuatu harus dibantu dengan penjelasan (pembahasan –red).
Peruntungan di tahun 2007 ini harus didukung upaya keras agar bisa duduk semeja dengan kasta lain (kok jadi ramalan tahunan?)

o/o : “Saya kan cuma wannabe”
x/x : “Ikutan Java Jazz dong…”
o/o : “??”
x/x : “Iya, maksudnya Sadao Watanabe”
(Mampus nggak tuh?)

Orang-orang di kasta ini sebaiknya belajar PowerPoint atau KeyNote (maaf, sementara hanya untuk Mac users) untuk mempresentasikan penjelasannya (bahasan –red) agar bisa dikategorisasikan sebagai genre SliperryTounge (berbunyi nyaring).

#5. Level OhMyGoat
Tidak banyak deskripsi mengenai kasta ini. Anda justify aja sendiri deh.
o/o : “Mari-mari silahkan…”
x/x : “Pakai handuk dong?”
o/o : (melongo)
x/x : “Hehee…anu, maksudnya mandi”

(Dzing! Gedubrax! Prax!#@xx#@!!!)
Silahkan ambil kursus kelas pemula di ruko sebelah.

Sofa so good, deh.

Wednesday, January 10, 2007

Thursday, January 04, 2007

“Global Repetition” – Free flow Arabica

Predictable.
Setiap pergantian tahun pasti ada yang memproklamirkan resolusinya.
Emang seberapa penting orang lain harus tahu kalau itu sebenernya adalah self objective.
Kok jadi kayak artis-artis sinetron konyol yang ngundang wartawan (ini lagi, wartawan kok diundang emang mau press release) hanya sekedar mendeklarasikan eh resolusi gue di tahun ini gini, gini dan gini lhooo…

Exhibitionist.

Atau bikin open house, makan-makan, cupika-cupiki sok asik dan cengengesan di depan kamera, ngrebut mikropon dan bilang eh resolusi gue tahun ini gini, gini eh gitu bentar ding, trus gini lhooooo….

Another Exhibitionist.

There’s a better way to get popularity!

Tahun baru adalah tahun baru.
Setiap tahun kita juga tahu itu. It’s a repetition kind of thing.
It’s a wonderful blessing that you still alive today.

Be a better person. Improve quality of life.
That is a resolution. Do it. Don’t talk too much.

Dan itu akan berulang terus selama kita mendiami globe yang bulat ini.
Week end akan berulang menjadi another week end.
Yang karyawan akan terus berharap gaji naik lagi.
Yang pengusaha akan berusaha terus memajukan bisnisnya.
Yang politikus akan terus berusaha menelikung lawan politiknya.

Just a perfect repetition.

What is the message then?
See these :
Malam Natal kemarin Pendeta Tobing berkotbah tentang “hidup yang berkenan bagi Tuhan”. Kotbah-kotbah seperti ini akan terus berulang dari waktu ke waktu.
The message is : don’t forget
(itulah kenapa para missionaries terus mengingatkan)

Dalam doa ada kalimat “…Tuhan ampunilah dosa kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami”.
The message is : we’re sinful
(itulah kenapa kita terus minta diampuni)

Lantas,
Siapa bilang advertising adalah bisnis inovasi?
Advertising adalah bisnis repetitive, from a brand to another brand. From a campaign to another campain, from lay-out to another lay-out, from client to another client (or even meet the old client).
The message is : face it

Trus kenapa juga tulisan ini kayak kotbah nggak bermutu?
Yaa… maap deeeh.