Monday, June 12, 2006

“Friends of homeless people” – End of the trilogy

Sardi adalah penjaja es dawet (es cendol – Jkt) di pinggiran jalan raya ke arah sumber bencana.
“Saya anu Mas… malah setres kalau di rumah. Rumah saya habis roboh tinggal empat tiang kayu jati yang berdiri”
Saya diam mendengarkan.
“Tetangga-tetangga ya ambruk semua. Makanya saya jualan saja terus”

Saya perhatikan ekspresinya.
Dia tidak membandingkan penderitaannya.
Tidak ada comparative misery, bahwa yang dia alami lebih shocking dari yang lain.
Yang ada, semua orang mengalami hal yang sama beratnya.

Itu seminggu setelah kejadian.
Sehari sebelumnya Sultan mengatakan : “Mari bangkit. Yang profesinya petani segeralah ke sawah lagi, yang pedagang segeralah jualan ke pasar, yang pegawai segeralah masuk kerja…”
Kira-kira isinya agar tidak duduk tepekur di depan tenda merenungi nasib dan menunggu bantuan.

Saya diam mencocokkan.
Agaknya sikap ‘nrimo’ suku Jawa ini sudah dikonversikan menjadi enerji positif. Setelah semua menyadari penderitaan dan melihat sekeliling, maka esok harinya masing-masing menggeliat.
Mereka menerima kenyataan - satu hal yang sangat tidak mudah dilakukan dengan peristiwa itu.
Semua sudah kembali ke NOL. Dan mereka aware !
Dan sesudah nol harus ada 1-2-3-4-5-6-7-8 dan seterusnya sampai angka tak terhinga.

Terbukti Minggu pagi kemarin.
Jam 7:30 terdengar ‘announcement’ dari TOA di menara masjid untuk segera berkumpul kerja bakti. Yang menarik dari ‘halo-halo’ kemarin adalah : “… kerja bakti dimulai dari rumah pak Anu, setelah selesai nanti giliran ke rumah pak Anu2 ke Utara, dan seterusnya”.
Dan mulailah mereka bekerja.

Belief bahwa rejeki itu sudah ada yang menata, membuat mereka tidak kawatir hari itu akan makan apa. Sudah ada ‘Event Organizer’ nya dari mana, entah. Nyatanya selalu ada gerakan diam-diam yang mensuplai makanan hingga kebutuhan pakaian dalam tanpa seremonial dan ‘news coverage’.
Siangnya datang bertruk-truk semuanya laki-laki tanpa pamrih apa-apa, dari arah utara yang kemudian berpencar di perempatan besar menuju lokasi tugas yang sudah dibagikan.
Geruduk – rempug – done!
Seperti gerilya yang berpindah-pindah, dan malamnya mereka duduk berkerumun menyaksikan Piala Dunia. Horeee… Goooooooll ! Ibu-ibu membuat kopi dari belakang tendanya.

Syukurlah masih ada TV.
Mensyukuri penderitaan? Dengarlah kata mas Yoni : “Sini dik nonton bola. Rumahku sekarang dindingnya transparan”.
Dia tidak bercanda. Tapi yang pasti dia mengatakannya dengan ceria.

Besoknya di week-end itu saya ketemu teman lama.
“Piye keluargamu?” tanya saya.
“Slamet kabeh”
“Omah?”
“Omahku yo ambruk, ning yo akeh kancane”
“- - - -“
Saya merangkulnya.

Tuhan adalah Event Organizer dari semuanya.

10 comments:

Anonymous said...

Mas G, aku bikin link di blog aku yaa...

mister::G said...

hehehe silahkeun...

Anonymous said...

om, pinjem artikel, di link maksutnya. hehehe. bole to? buat belajar2 ini :)

oca said...

canggih ya EOnya? Bisa dapet very big exposure dalam sekali event.
bisa bikin orang-orang tambah akrab.
perlu dibikin sering-sering kali yaa event-event seperti ini...

mister::G said...

sering2? bagi mereka yang kehilangan, i don't think that's a good idea

oca said...

makanya kalo mo akrab, berakrab-akrab lah jangan sampe nunggu event-event semacem itu ditanggep...
start from our own self.
:)

rangga said...

EO yang paling susah ditebak, presentasinya lugas, dalam, kadang dieksekusi dulu eventnya baru kita ngerti konsepnya...

aneh.

tapi tetep EO favorit saya.

welcome back, kangmas...

mister::G said...

am back. no choice :P

Anonymous said...

Bajigur, tulisanmu marai aku nelangsa je om..
Sithik banget sing tak lakokne kanggo dulurs sing kena gempa..

...puff...

mister::G said...

sumardjo the maaannnn...