Tuesday, April 28, 2009

The Brand. The Name. The Legend - Hot black coffee and coconut sugar in a tin cup

Disadari atau tidak, Nunung Srimulat adalah sebuah brand. Penampilannya di Kick Andy beberapa waktu lalu (malah kabarnya mau re-run) tetap membuat banyak orang tertawa. Penampilan yang konsisten dari anggota kelompok legendaris Srimulat.

“Ayo, jadikanlah aku bancakan!”
Yang ini mungkin tidak semua menyadari bahwa sebenarnya bukan sekedar kalimat lucu, tetapi lebih jauh dari itu, ini adalah sebuah brand proposition.
Dia menyadari benar bahwa ketika dia muncul di panggung, lawan mainnya sudah lucu-lucu semua.
Lantas bagaimana dia bisa mengambil bagian?
Ya itu tadi, jadikanlah aku bancakan! Sebuah invitasi fisik yang mengundang tawa dan perbuatan (dalam bahasa komunikasi dengan fasih kita biasa menyebut sebagai ‘call to action’).

Nunung jauh lebih cerdas menganalisa dirinya untuk mencari faktor pembeda antara dirinya dan kompetitor - yang notabene adalah teman-teman sepanggungnya- dibanding dengan invitasi poster-poster caleg yang tempo hari bergelayutan di pohon-pohon.
Sukses Nunung dan Srimulat lebih long lasting karenanya.
Karenanya?
Barangkali juga bukan semata-mata karena itu.
Yang jelas seringkali peranan brand name juga menentukan kesuksesannya.
Bahkan sebuah brand name (betapapun noraknya) seringkali meginspirasikan sebuah proposisi yang memudahkan komunikasinya. Karena brand name dirancang tidak berdasarkan ritual bubur merah-putih biar selamat, tetapi semata-mata untuk tujuan marketing, biar dibeli.
Bahkan di banyak kasus, sebuah brand name memudahkan pekerjaan kreatif karena sudah mengandung ide di dalamnya.

Dalam kasus Nunung, dia tertolong oleh mother brandnya: Srimulat yang legendaris. Mother brand yang dibangun dengan blood, sweat and tears dan managed by nasib. Podo-podo rekoso, podo-podo senenge. Mangan ora mangan, yen iso ngguyu wae… (dalam bahasa cowboy Grand Canyon disebut: camaraderie)
Tetapi sebenarnya sebuah personal brand seperti Nunung akan bertahan lama kalau dia perform secara konsisten. Dia harus rajin membuat debut, bila perlu ngebut.

Seorang pengusaha muda mengajarkan kepada saya bahwa kalau memulai bisnis baru harus ‘beda’. Di teori-teori tentang brand, hal tersebut yang akan memudahkan ke slot mana brand tersebut masuk ke benak konsumen.

Di Yogya belakangan muncul brand name baru, namanya Wedang Uwuh (wedang: minuman hangat, uwuh: sampah – konon ini minuman yang dibuat dari ramuan, serutan dan ‘kepyuran’ berbagai macam local ingredient yang fungsinya menyegarkan dan – syukur-syukur -menyehatkan) yang lantas menjadikan peminat kuliner penasaran ingin mencoba.
Saking populernya brand tersebut, yang bersangkutan banyak ditiru dalam berbagai macam versi dan perlahan menjadi generik -> masuk ke paritas produk.
Padahal dari namanya yang ‘uwuh’ tadi kita bisa dengan gampang mengkomunikasikannya (atau jangan-jangan tidak perlu dikomunikasikan lagi dengan berbagai macam terori komunikasi modern).

Brand name itu high recall (seharusnya).
Di agenda pementasan Teater Salihara Pasar Minggu, saya kecewa berat karena ketinggalan satu jadwal pentas dari kelompok musik yang bikin penasaran. Hanya karena brand namenya adalah: Kelompok Musik Cangkem Khatulistiwa.

Thursday, November 13, 2008

Between ‘mak jegagik’ and ‘mak bedunduk’ - Need no subhead

Dua kosa kata Jawa yang sangat ekspresif.
‘Mak jegagik’ dan ‘mak bedunduk’ sebenarnya mempunyai nilai keterkejutan yang nyaris sama. Yang membedakan hanyalah dimensi ruang di sekitarnya.
‘Mak jegagik’ adalah keterkejutan sesaat ketika berhadapan dengan obyek lain secara sontak dan frontal, dan keterkejutan tersebut berpihak pada subyeknya.
‘Mak Jegagik’ mempunyai efek turunan yang bernama ‘mak tratap’, yaitu kejadian yang membuat jantung dienjot-enjot sepersekian detik sebelum dilepas ke kondisi normal.

Sementara pada ‘mak bedunduk', obyek dengan cepat berubah menjadi subyek yang mempunyai kontrol penuh terhadap penampilannya yang mendadak. Dia mampu mengatur speed dan appearance. Mau dissolve, slow motion atau fade in terserah dia.
Kehadirannya bisa seperti hantu yang tau-tau nongol sosoknya di tempat yang dia kehendaki…. mak bedunduuuuuuuuuuuuk.

Dan inilah produk ‘in between’ versi kami.


Sebuah proyek kolaborasi yang tidak terlalu mengejutkan, tetapi juga tidaaaak terlalu bisa diprediksi pemunculannya.
Kolaborasi tiga profesi yang dijungkirbalikkan dari fungsi-fungsi normalnya.
Film Director yang biasa ‘dealing’ dengan motion picture, kok ya menghentikan gambar-gambarnya menjadi foto.
Creative Director yang ‘dituduh’ art based (visual based kali ya…), kok ya mendadak menjadi penulis.
Dan ini yang aneh, Pengusaha Restoran kok ya ngedisain grafis. Disainnya maut pula…

Proyek kolaborasi yang mengandung titik dua (:)
80% nekat
20% narsis (okelah, aktualisasi diri)
1% magic
Lhoh, jadinya 101% dong?!
Emang kenapa?

Inilah proyek kolaborasi selama 1.5 tahun yang membuat saya menemukan orang-orang yang mempunyai passion di dunianya, di lapisan layar yang paling belakang dari sebuah panggung pementasan.
Proyek kolaborasi yang membawa saya menonton Bedhaya Dhirada Meta ke Teater Salihara untuk merasakan aura magis yang luar biasa.
Proyek kolaborasi yang membuat para tetua yang saya hormati berkenan datang ke Palalada Grand Indonesia.
Proyek Kolaborasi membuat Oom Sonny Soeng rela menutup kafenya di malam minggu semata-mata untuk merilis proyek ini ke komunitas yang amat menyenangkan di Bandung.

Proyek kolaborasi yang munculnya mak bedunduk…dan bergerak diam-diam seperti setan.

I wouldn't end my steps at this point anyway. Not before I could describe the color of fresh water - (page 08)

Saya bahagia. Belilah! Belilah!

Tuesday, October 21, 2008

Chicken on nett – sit back, sip back, enjoy the show

Masih inget billboard besar menjelang masuk kota (atau kabupaten?) Pattaya yang dibuat oleh network agency setempat beberapa tahun lalu?

Welcome to Adfest. We hope you lose

Dari atas bus, minibus taksi atau taksi Mercedes yang membawa kontingen Adfest dari Swarnabhumi , billboard itu mengundang senyum.
Dan mendadak begitu sampai di jalan itu terasa ‘klik’ perbauran aura kompetisi, party, meeting dan sekaligus pelarian diri dari kantor.

Pattayaaaaaa here I am again….
(dibayarin kantor maksudnya)

Beberapa minggu lagi kita akan merasai aura yang kurang lebih sama di Jakarta. Melihat iklan bagus-bagus setahun sekali, mengerutkan dahi di seminar berbahasa Inggris, haha-hihi tukeran kartu nama dan keplok-keplok di seputar panggung. Rutin dan nyaris repetitive.

Bedanya, di sini bisa post party sambil memandangi perolehan trophy yang bagus sekali disainnya itu sambil menodong para MD, GM untuk membayar bill minuman berbotol-botol.

Minggu lalu saya tanya beberapa teman dekat saya dengan 1 pertanyaan klasik : “Ngirim entry banyak nggak?”

Jawabnya ternyata bermacam-macam :
1. “Nggak ngirim, nggak mampu bayar”
2. “Dikiiiit, ngelayani klien mulu, nggak sempet ‘main-main’ dengan inisiatif ad”
3. “Embuh. Aku pitching tiap hari nggak sempet pulang, boro-boro mikirin entry”
4. “Ngirim lebih banyak dari tahun kemarin meskipun kayaknya tahun ini agency si Anu masih merajai, at least dapet colongan lah” (hmm..panjang sekali jawabannya)
5. “Yang konvensional dikit, gue banyakin yang digital media”
6. “Tahun ini males maassss….”

Saya yang tahun ini tidak mengirim entry (dan tahun lalu diblokir secara internal…sukurin gak dapet apa-apa!), jawaban-jawaban tadi menunjukkan variasi situasi yang khas terjadi saat ini di industri.

Pertama, entry fee yang dirasa mahal. Buat teman-teman freelancer atau team kreatif yang dicuekin majikannya akan terasa sekali uang yang harus dikeluarkan (seperti kita bayar sendiri fiscal untuk liburan keluarga, dibanding kalau dibayarin PH atau kantor saat kita post pro atau meeting ke luar. Ditambah uang per diem lagi…)

Fenomena lain adalah dikotomi abadi bahwa award forum adalah forum iklan-iklan inisiatif yang nirlaba. Bukan iklan sehari-hari yang di push secara maksimal menjadi berkilat dan layak disebut sebagai ‘entry’. Hemm... Heeemmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm ......

Gejala lain adalah malas, atau ... eh kok tau-tau udah September ya, kita belum punya tabungan entry. Ini adalah fenomena ketidak-konsistenan untuk menghasilkan output berstandard ‘nggak malu-maluin’.
Excusenya adalah : masih manusiawi kok.

Berikutnya…Pitching. Momok baru yang menguras segala-galanya hingga kering, dan lebih kering lagi kalau pengumuman pemenang pitching adalah : TIDAK ADA, wong pengundang pitch cuma window shopping kok.
Mau window shopping atau window kaing-kaing, yang jelas alokasi waktu, tenaga dan pikiran kadung ‘all-out’ didedikasikan demi kenaikan billing.
Mister Entry untuk bulan depan nggak sempet dipikin. Salahin manajemen ajalah, gampang.

Yang menarik adalah tumbuhnya kesadaran akan media-media baru dengan pendekatan baru. Nggak percuma dikirim ikutan Seminar APMF ke Bali segala macam (problem utama setelah ikutan seminar adalah tidak pernah diimplementasikan bukan?). Ini strategi menarik untuk mengirim entry yang berpeluang besar.
Mengirim entry toh bukan semata-mata mengikuti kategori yang ada, terus minta uang ke Finance yang sebulan baru dijanjikan keluar.
Janganlah mengirim ke kategori yang diprediksi dipenuhi oleh entries agency lain, alokasikan ke media baru toh orang Finance juga nggak tau untuk apa duitnya.
Taunya : “Duit meluluuuu…piroooo?” Hahahahahaaaa… giliran dapet new business, meneng wae. Setidaknya inilah yang mewakili pikiran sebagian team kreatif.

Terlepas dari segala macam ‘alesan lu’ tadi, forum yang beberapa minggu ke depan kita ikuti bersama pastilah menarik. Jauh lebih menarik dari keseragaman status YM para BlackBerriers ‘Kill the chicken in you’ - yang notabene para pengurus event yang sibuk- belakangan ini untuk menengok YouTube.

Ayolah para chicken, get killed lah … and pay the entry on nett. We hope you all win, haa…

Tuesday, September 23, 2008

LEARNING BY DO WHAT – IMIGRANT SONG BY LED ZEPPELIN

Ya mari kita nonton TV.
Di National Geographic lagi ada perjalanan ‘Long Way Down’ nya Ewan McGregor dan Charley Boorman yang seru dengan motor BMW menyusuri London - Capetown.
Nah, di TV lokal juga tidak kalah serunya, ‘The Liputan Mudik’ hampir di semua stasiun televisi kita.

Selalu saja menarik dan saya sering sekali mengalami sendiri, menyusuri Sumedang-Kuningan-Purwokerto hingga Yogya menjelang tengah malam.
Sampai hafal liku-liku tikungan dan bagian jalan yang berlubang.
Menariknya lagi karena kita semua tahu bahwa menjelang Lebaran pasti butuh jalan yang lebar dan layak dilintasi, tetapi selalu saja jalan baru dipersiapkan dua bulan sebelumnya.
Padahal mudik adalah ritual tahunan yang penuh drama dan foto-fotoan (mulai nggak jelas nih!).


Dua puluh tahun lalu ketika saya berangkat ke Jakarta sebagai kaum urban dengan koper besar mengadu nasib di sini, setiap tahun pula saya selalu pulang melewati jalur mudik dengan segala macam versi jalan alternatif, jalan tikus sampai jalan kecoa. Nggak perlu GPS karena kalau kesasar justru di situlah dramanya.
Terjebak dan menginap di jalan hampir semua imigran pernah mengalaminya.
Dibelokin polisi berpuluh kilo jauhnya, hampir semua ‘orang Jawa’ merasakannya

Tahun ini karena saya nggak mudik, ya sudah mari nonton liputannya.

Berikut salah satunya, reportase dari dalam bis antar kota non AC yang berdesakan dan pengap.
Mbak Penyiar (MP) :
“Pemirsa saat ini kami berada di dalam bus yang akan membawa para pemudik ke kampung halamannya….Ibu, mau mudik ya Bu?”

Ibu Pemudik (IP) :
“Iya ke Sragen”
(MP) : “Kok naik bis begini Bu? Berdesak-desakan, apa nggak capek Bu?”
(IB) : “Ya capek lah mbak…”
(MP) : “Lama ya Bu perjalanan ke Sragen?”
Si Ibu diam saja, dan saya setuju lebih baik dia diam saja!

Oalah mbak… kalau si ibu itu mampu mencater bus sendiri pasti dia nggak naik bus pengap. Yo wis ben.
Mungkin si mbak penyiar itu dari Ostrali sehingga nggak tau sejauh mana Sragen itu dari Jakarta.

Pindah ke stasiun TV yang lain. Kali ini wawancaranya di kolong jembatan. Si mbak penyiar (penyiar apa penyair sih?) menanyai beberapa ibu tuna wisma dengan serenteng anak-anaknya yang berlarian kesana-kemari.
(MP) : “Kami berada di bawah jembatan layang di mana banyak sekali kami jumpai warga Jakarta yang tidak bisa mudik karena beban hidup yang begitu berat di Ibukota …Selamat siang Bu, kok ibu disini, nggak pengin mudik ya Bu?”
IBJ (Ibu Bawah jembatan) : “Ya pengin mbak”
(MP) : “Trus kenapa nggak mudik Bu?”
(IBJ) : “Nggak ada ongkos…”
(MP) : “Ini anaknya Bu? Kok nggak ditaruh di rumah saja, kan berdebu di sini?”

Rumah nyang mane, whoee…?
Ini lebih lucu lagi.
Kali ini yang ditanya anak-anak kolong yang dekil, entah anak si ibu itu beneran atau anak sewaan.

(MP) : “Adik-adik, kok main di pinggir jalan, nggak bahaya ya? Kok nggak sekolah?”

Oalah mbak… Emploken wis.

Entah kuliah jurnalistik di mana si mbak dengan pertanyaan yang seperti itu. Kok rasanya seperti copywriter menulis headline yang redundant trus minta di approved sama CDnya.

Dan jangan lupa, pertanyaan-pertanyaan itu berulang setiap tahun, sejak (setau saya) dua puluh tahun yang lalu, seperti halnya persiapan jalan mudik yang tidak pernah belajar dari pengalaman bertahun-tahun.

Oalah…nasib kaum urban...
Mari nonton Ewan McGregor naik motor di Afika saja. Minggu ini dia sudah masuk kawasan Sudan.

Wassalam.

Wednesday, August 27, 2008

OH, IT’S NOT DURIAN SEASON - Late night latte

Belakangan saya agak sering dimintai tolong teman-teman untuk nyariin orang.

Bukan!
Saya bukan detektif swasta. Teman-teman mau merekrut anggota team yang punya kompetensi pas. Mulai dari Graphic Designer, Art director, Writer, AE, Account Director… kenapa gak cari Owner sekalian yak… atau Manager Owner? :P
Trus kompetensi saya apa ya kok dimintai tolong nyari paket-paket ini?
Sempat terpikir, apa saya jadi head hunter swasta aja apa ya…? Side job jadi head hunter lucu kali ya… tapi ntar dipecat? Nggak ah, saya nggak punya proteksi hukum. Nggak kayak ‘The Predator’ yang bisa membunglonkan diri.
Ya saya senang-senang aja membantu teman-teman mencari ‘paket’ itu.
At least suatu ketika kalau saya butuh udah tau networknya.
Lagian kayaknya lagi musim pertukaran pemain nih. Turn over lagi tinggi.




Musim yang lain yang saya perhatikan adalah musim GM (bukan mie).
Perhatiin deh, di kantor si anu diangkat GM baru. Trus GM-GMan ini merembet kantor-kantor lain. Banyak kartu nama baru, posisi baru, mobil-mobil baru dan paket-paket unduhan baru.
Masalah kompetensi?
Karena saya batal jadi head hunter, ya mana saya tahu?
Kalau musim duren sih saya tahu mana yang bagus mana yang enggak. Mana montong, mana lokal, mana manis mana pahit, mana mahal mana murah. Lha kalau GM kan mahal murahnya bisa meniru ‘The Predator’ yang membunglon tadi. Maksudnya ambil paket mahal, pas diuji coba kompetensinya me-mimikri-kan diri. Gitu deh.
Sempet ketemu teman lama dan saya sempat tanya : “Kabarnya si Nganu gimana sebagai GM, bisa?” Pertanyaan saya sebenarnya tanpa tendensi apa-apa, eh lha kok dijawab : “Oh dia mah bisanya hihihi…” Lhoh gimana sih? Masak di kartu namanya ditulis “Nganu Hihihi”?

Musim yang lain lagi adalah menulis buku. Bukan lomba lhoh, musim.
Beberapa teman mendorong saya untuk nulis buku. Hah, buku apa? Nulis blog aja males kok.
“Nulislah buku advertising”
Oh noooo……!
Saya nggak kompeten.
o/o : “Trus kamu mau ngapain?”
x/x : “Nggg…apa ya…berkesenian mungkin” saya memberanikan diri.
o/o :”Melukis?”
x/x :”I wish!”

Lalu saya jelasin kalau saya menulis essay untuk buku foto teman saya dalam bahasa Inggris.
o/o :”Wueedan!! Keminggris!”
x/x :"Ya..paling enggak do something lah"

Saya menyadari sepenuhnya bahwa kemampuan berbahasa saya jauh dari sempurna, apalagi bahasa asing.
Lha tapi piye? Wong jadi GM aja pada berani kok, mosok nulis aja nggak berani.
Tetep saya nggak pede nulis coro Enggris.
Tapi jadi GM kan nggak harus ngerti manajemen.
Nulislah mas…ayo…ayo.

Walhasil, saya minta tolong teman untuk mengkoreksi grammar saya. Tapi
awas ya, jangan ngrubah ekspresi. Teman saya menyanggupi dan meyakinkan bahwa untuk ekspresi seni, bahasa tulis nggak harus benar grammarnya. Paulo Coelho itu apa ngikutin tata bahasa?
Saya agak tenang.

Jadilah proof print yang disain grafisnya dikerjakan dengan penuh gusto. Senang bukan main, tapi sewaktu saya baca ulang, kok kayaknya banyak yang salah deh grammarnya.
o/o : “Ini sudah diedit oleh dua orang Mas, tenang aja”
Saya agak tenang.
Tapi bagi saya, bahasa Inggris adalah kira-kira. Enake ngene, raenake ngono, gitu lho!

Jadi, sekarang saya lagi nunggu buku itu naik cetak. Perlu lah naik cetak sebelum naik jadi GM (hus!) atau naik-naikan lain.

Jadi, sekarang saya ikut musim.
Ada yang mau duren?

Tuesday, June 24, 2008

Service Oriented vs Survival Oriented - Cappuccino Plus Plus

Lebih seneng mana? Bayar tukang parkir jalanan 2 ribu tanpa balasan terimakasih, atau lagi jalan di mal trus dikejer-kejer SPG kartu kredit?

Atau gini deh, berapa kali dalam seminggu kita melihat penjaga gerbang tol tersenyum? Hayooo…..
Yang jelas beberapa kali saya baca di ‘Redaksi Yth’ para corporate pi-ar berusaha menjelaskan ke publik dengan menanggapi keluhan konsumen mereka yang diposting di ‘Redaksi Yth’ edisi sebelumnya.
Intinya isinya : “We are apologizing for this/that/those inconvenience”

Di pompa bensin Pertamina (yang baru diberlakukan setelah dapet saingan…ealaaah) sekarang ada tulisan hotline pengaduan gede-gede dan jelas-jelas di badan pompa bensinnya
Konsumen berhak mendapatkan 3 S : Senyum. Sapa dan Service (lhoh bahasanya kok campur-campur?). Lupa saya S yang ketiga. Sarapan? :P
Sementara di Shell dan Petronas lebih riil dengan memandikan kaca depan.

Service Oriented.
Atau kata Tizar : Serpis orienteit.

Bulan lalu saya ke bengkel Mitsubishi karena mendapatkan tetesan oli di lantai garasi. Padahal seminggu sebelumnya saya habis tune-up di bengkel itu. Saya jelskan ke kepala mekanik bahwa mungkin ada packing yang bocor. Tolong dicek semua yah…yah…yah…?
Setelah satu setengah jam mobil saya selesai dan si Mas Kepala Mekanik (pakai huruf kapital karena nama jabatan) bilang :
o/o : “Sudah selesai pak, dibawa aja”
x/x : “Lhoh? Gak bayar?” (tumben)
o/o : “Iya pak, mohon maaf. Minggu lalu waktu bongkar packing, montirnya salah pasang gasket baru, jadi melintir dan pecah sehingga olinya nyemprot keluar”

Baiklah saya maafkan selama diganti baru lagi.
Senengnya kalau semua bisnis layanan mengutamakan kepuasan konsumen.
Itu juga yang mungkin dilakukan di bak truk yang melaju di tol Kebon Jeruk beberapa waktu lalu. Iya kali ya?
Disana ada tulisan :
“Bila sopir ugal-ugalan, telpon simbok di kampung”

Superb!

Thursday, April 17, 2008

Middle Man - Between pure black and blended

Ini bukan tentang makelar perantara yang memotivasi dirinya dengan besaran komisi yang bakal diperoleh. Ini cerita tentang posisi tanggung yang kalau nggak kuat bisa bikin mutung.

Thomas Shultze adalah Regional Executive Creative Director di Hong Kong (hi Thomas...) yang dikirim ke Jakarta karena kena sikut politis seorang Regional Account Diector. Sikutnya sangat tajam dan mulutnya konon sangat berbisa untuk orang seganteng Antonio Banderas.
Maka datanglah Thomas dengan ikhlas ke Jakarta untuk memimpin departemen kreatif di network (tiiiiiiiiiiit.......) itu.
Kebetulan saya mengenal dia beberapa tahun lebih dulu daripada teman-teman yang lain di tim saya.
Tapi rupanya perbedaan kultur tidak membawanya bisa diterima dengan mulus. Karakter Jermannya begitu kuat untuk mendikte kesana-kemari, me-reject dengan membabi buta berbekal post power syndrome dari regional head quarter ke kantor daerah seperti Jakarta ini. Mungkin seperti orang-orang agency Jakarta yang roadshow ke Yogya, Semarang atau Surabaya yang cenderung kemlinthi petentang-petenteng nggak karuan.
Huh!

Nah, adalah seorang art director di tim saya - Jeffry - (hi Jeff...) yang merasa di abused ketika Thomas me-reject layout yang di review di forum internal.
Merah padamlah muka art director saya ini, dan sambil berdiri dia berkata : “Hi Thomas, can you proof me that you are better than me?”

Mati aku!

Adalah saya, yang mengepalai group Jeffry dan dibawahi Thomas terbengong-bengong melihat drama tersebut. Seorang Regional ECD Asia-Pacific ditantang oleh seorang art director kantor cabang - dan kok ya itu anggota tim saya.

Saya yakin Thomas sebagai orang yang sudah malang melintang disembah-sembah bisa melihat ‘the bigger picture’ dari topik yang dia review.
Di sisi lain saya juga yakin bahwa Jeffry begitu terpuruknya dengan penolakan semena-mena terhadap ‘ide besarnya’.
Nah bener kan... Thomas memanggil saya menanyakan ‘kenapa kecelakaan itu’ terjadi.
Jenis-jenis pertanyaan “Who’s the hell... ” bertebaran di depan saya.
Saya cuma bisa bilang : “Thomas, kowe ki mbok ojo mbagusi neng kene. Mbok ndeleng-ndeleng sik nek arep prentah, mengko nek kowe diclurit uwong lagi kapok kowe...”
Satu tahun kemudian Thomas dideportasi dengan vonis : tidak bisa bekerjasama dengan tim kreatif.

Episode kedua terjadi ketika seorang bule muda, Simon Beaumont (hi Simon...) menggantikan Thomas Shultze dan saya menjadi associate nya. Seperti biasa dia pengin lihat konfigurasi tim yang ada seperti apa. Semua oke-oke saja kecuali fungsi saya sebagai associatenya.

Asu tenan!

Pada tahun krisis financial, pak petinggi agency memutuskan untuk memberhentikan 15 karyawan - 8 diantaranya dari departemen kreatif.
Pak GM memanggil untuk ‘menemani’ mengeksekusi teman-teman saya sendiri.
o/o : “Kok bukan Simon, pak?”
x/x : “Simon kurang kredibel. Dengan gayanya yang tiap hari angkat kaki ke meja begitu bisa dikeroyok nanti”
Satu persatu di panggil untuk ‘diselesaikan sampai di sini’. Ada yang isitrinya lagi hamil tua, ada yang kredit rumahnya baru mulai, ada yang anaknya baru masuk TK. Semua harus di lay off.
Seminggu saya tidak bisa tidur nyenyak kepikiran terus apa yang menimpa teman-teman saya di depan saya dan pak GM.
Dan Simon? Cuti ke Bali deh kayaknya...
Apes lagi!

Tapi ya mungkin begitulah nasib Associate.

Posisi associate adalah bola tanggung yang di tendangkan kesana-kemari.
Dia punya bawahan yang bisa diperintah tetapi juga punya boss yang tidak bisa dilangkahi.
Dia boleh mengusulkan tetapi tidak bisa mengambil keputusan final.
Dia duduk di kursi direktur dengan catatan pada posisi wannabe.
Dia
Dia secara politis aman karena punya bumper ke luar tetapi dia harus menjadi bumper ke dalam.
Dia boleh naik mobil atasannya, tetapi harus rela jika sekonyong-konyong diturunkan di jalan.
Dia bisa melihat obyek ke depan, tetapi selalu terhalang pepohonan.

Tetapi...
Nanti kalau sudah berhasil ke jenjang posisi berikutnya dia bisa bilang kepada bawahannya : “Jangan cengeng, kalau cuma begitu aku pernah mengalami yang lebih buruk”

Posisi Associate adalah era pendewasaan. yang sering penuh kepahitan, serba tanggung, geregetan dan ketidak nyamanan.

Untung saya hanya mengalami setahun.
(Pantesan nggak pernah dewasa...)

Thursday, April 03, 2008

“Bad marketing wish - Too much coffee will kill you (Queen)”

Saya pernah di cap ‘anti marketing’ di sebuah milis.
Entah apa maksudnya, apakah agency tempat saya bekerja dulu begitu dilihat sebagai 'main competitor' agency dia, atau karena saya pernah menganut ‘faham award driven’ di agency sebelumnya yang membuat yang bersangkutan begitu sinisnya dengan ‘drive’ tersebut.

Saya pikir, bagaimana mungkin saya bisa ‘anti marketing’ sementara saya bekerja di industri advertising seperti ini. Darimana saya bisa mendapat gaji kalau bukan income dari para marketer di pihak klien.
Aneh. Ah tapi sudahlah, saya berusaha melupakan ‘tuduhan’ itu dengan bekerja sebaik-baiknya.

Belakangan saya ngobrol sama Glenn Marsalim (dedengkot freelancer itu) di YM.

GM : “Aku lagi pusing nih, bantuin agency2 kok sekarang nggak proper ya kerjanya. Serabutan sekali. Kalau aku jadi klien liat kerjaan agency gitu juga gak respek. Tapi mirisnya, orag agency nya ngerasa udah luar biasa kerjanya”
GS : “Emang sih terasa ada peralihan pola agency, kinerja, sumber daya manusia dsb”
GM : “Jadi kesannya tuh ‘asal’ gitu loh.... Aku juga ngerasa kalau jadi klien juga makin gak percaya dan respek sama agency selonte lontenya aku, aku tetep ngerasa kita mesti coba kasih saran yang menurut kita terbaiknya gimana kalau udah mentok tok tok baru deh nyabo, tapi kalau sekarang tuh belum apa apa dah nyabo”
GS : “Itu dia... gak ada yang mendidik market dalam komunikasi jadinya, klien nganggep begitulah agency, makanya fee nya bisa di abuse. Output yang kita liat setiap hari di media ya seperti itu. Oooo....itulah iklan”
GM : “Emang siiih.... klien juga makin hari makin pelik ya keadaannya berasa lah dari brief mereka juga makin hari makin pelik. Agency juga mesti lebih lentur dalam menyikapinya, tapi sekarang kalau agency dianggap third party atau diremehin klien, gak boleh sakit hati kan
GS : “Terrlanjur gitu... sebenernya disini fungsi organisasi untuk men...... tiiiiiiittttttttttttttt

(disconnected)


GM : “Aku sih ya gak mikirin organisasi sama sekali
GS : “Kamu gak mikirin tapi ini udah jadi virus industri, kondisinya gak ada yang ngobatin. Suatu hari kalau aku bisa keluar dari advertising dan hidup mapan dari sumber lain (amin!), aku pengin nulis buku kumpulan kejadian2 di bisnis advertising :"Advertising is not Everything". Kamu mau jadi editorku?
GM : “Mau... hehehehehe, tapi aku belum selesai dengan kekesalanku ini kok kamu dah ganti topik kayak orang iklan deh
GS : “Ya beginilah caraku kompensasi. Topiknya struktural soalnya, penyakit inti sel
GM : “Aku bilang sih secara sederhana orang orang iklannya aja yang ngaco. Masalahnya jangan ngomong mendidik lah emang siapa lebih pinter dari siapa. Agency juga gak lebih pinter dari siapa siapa
GS : “Bukan masalah pinteran siapa tapi agency musti bisa duduk semeja dengan klien
GM : “Untuk bisa kerjasama kan mesti saling ngerti toh? Nah seberapa banyak agency mau ngertiin klien lah
GS : “Mari kita tutup dengan mengucapkan : Begitulah
GM : BEGITULAH


Jebakan.
Jebakan yang juga saya rasakan dalam mendevelop team kreatif. Prioritas antara memahami brand, memahami konsumen, memahami kompetisi, memahami market, memahami media dan menjadikannya fokus sebagai output, jadi terjungkir balik dan tidak akan pernah lengkap tanpa pemahaman yang komprehensif terhadap bisnis klien.

Pemahaman yang terakhir ini menurut saya musti dibalik menjadi yang pertama. Dan ini bukan hal gampang untuk ditanamkan di seluruh denyut nadi semua anggota team. Dan kalau mereka nggak ngerti-ngerti, itu salah saya juga.
Jebakan batman yang mempersempit angle anggota team, sehingga output kreatif nya keukeuh sumeukeuh idealis atau yang seperti Glenn bilang : nyabo onanis.

Terus, hubungannya dengan judul di atas?
Ooooh.... itu?
Itu adalah tentang kavling di depan rumah saya yang belum laku2 dan saya doakan tidak pernah laku biar tidak menghalangi angin ke rumah saya dan seolah-olah saya punya halaman depan yang luaaaaas.....
Anti marketing?
Ya ndak lah, buktinya saya tidak mencabuti papan nama para broker kayak LJ.Hooker (ini nama kok ya hooker to yaaa...?)dan kawan-kawannya.

Kan berusaha memahami bisnis klien, hihihihi.....

** Transkrip dialog YM di upload atas seijin Glenn

Monday, March 31, 2008

“The Gudeg and the Cong” - Over boiled local Toebroek”

Tadinya saya pengin beri judul postingan ini sekeren : ‘Thief and The Cobbler’ (ingat film animasi absurd tahun 80an?), atau ‘Starsky and Hatch’, atau ‘The King and I’, eh jadinya kok ya gudeg juga.
Bodo ah.

Seminggu setelah Imlek saya sms si Fung : ‘Cap go meh’.
Dia jawab :
o/o: “Wah shio Tikus cong nya berat tahun ini”
x/x : “Ha? apa itu cong? (moncong? congor?) Aku shionya Tikus...”
o/o: “Kesehatan dan keberuntungan. Musti banyak-banyak berdoa dan menjaga kesehatan dengan benar. Kalau di klenteng ada ritual khusus untuk menolak bala”
x/x : “Oooo ...(=melongo).
Di hari lain Glenn bilang melalui YM nya.
*/* : “Banyak-banyaklah sedekah”
(saya lantas ingat persembahan bulanan yang belum saya kumpulkan)

Kehidupan berjalan rada tidak biasa sampai datangnya lemas-lemas, mual dan anget-anget nggak jelas.
Tusuk jarum dan moksa tidak mempan dan hanya menunda datangnya demam di hari berikutnya.
Not now! Lusa ada pitching.

Confession to dr.Jacob.
Adalah seorang dokter Jacob, general practitioner yang senior. Dari cara memegang pasien saya tahu dia setingkat dokter Broto dari Angkatan Laut itu.
Dan diagnosanya bisa diandalkan tentunya.
x/x : “Dok, saya pernah bed rest tujuh tahun lalu karena gangguan fungsi hati, trus beberapa bulan lalu karena kristal di ureter saya. Apakah ini akan terulang Dok?”
+/+ : “Tidak ada salahnya nanti setelah demamnya turun check darah ke lab. Ini saya deteksi ada radang di tenggorokan”
Anti biotik yang sebisa mungkin saya hindari, kali ini tidak bisa dielakkan.
Pitching bisa ditebar dengan pesona maksimal.
Thank God.
Malamnya muntah tanpa keluar apa-apa.

Kyle Kwong is no longer interesting.
Antibiotik dokter Jacob bikin teler seteler-telernya (mengingatkan saya akan tagline es teler di Yogya dulu : Memasyarakatkan es teler dan menelerkan masyarakat.)
Kepala tidak pernah tegak, badan lemes aneh (istilah teman saya : kurang jelas maksudnya :P)
Mual dan lucunya, sampai nonton acara kulinernye Kyle Kwong dan Anthony Bourdain saya eneg melihat makanannya. Apakah TV sekarang sedemikian interaktifnya sampai makanan yang di broadcast bisa bikin mual penontonnya? Heran.
Anehnya, pengin banget rasanya bisa makan gudeg saat itu.
Terbayang nasi panas dengan gudeg sambel krecek, tahu yang kenyal-kenyal gempi, telur pindang yang coklat kehitaman (M74, Y72, C57, K79) serta dada ayam dengan areh yang menggiurkan (yang menuruh istilah pak Umar Kayam almarhum : ‘mlekoh’) terus disuwir-suwir. Huaaaaaaaaaaaaaaaa............
x/x : “Aku tak mereparasi tubuhku dulu ya, daripada masuk trus kayak kemarin mual lagi”
Teman-teman saya di kantor pasrah.
Atau tepatnya hopeless.

Back to square one.
Body saya tidak mampu menyerap antibiotik dan obat mual yang bikin hoek.
Internist andalan saya dr. Azwar saya datangi siang-siang (padahal dapet nomernya pagi-pagi).
Sekujur perut rasanya kram.
Seperti Abraracourcix yang melolong ketika perutnya kejatuhan daun sewaktu sakit maag, begitulah saya saat dokter Azwar memegang ulu hati saya.
+/+ : “Obat ini terlalu kuat untuk lambung, saya ganti ya. Yang antibiotik dihabisin saja”
(keluh)
o/o : “Bukan gangguan fungsi hati dok?”
+/+ : “Rasanya bukan. Bapak sedang stress?”
(keluh)
Dua hari tidak ada tanda perubahan signifikan.

Yellow spot.
Jumat malam 18.25-18.30 (emang perang Diponegoro?) sampailah saya di UGD yang sedang berisik. Hemmm...dokter jaganya gak detail, kecuali :
+/+ : “Mata Bapak kuning sekali, sebaiknya dirawat dan temperaturnya 38,6. Sebaiknya segera cari kamar”
Mau saya memang dirawat, tapi cari kamar di sini?
Sewaktu masih jadi salah satu direktur perusahaan besar (perusahaannya yang besar, gaji mah segitu-gitu aja), ini gak jadi masalah. Saya bisa langsung ke VIP.
Tapi sebagai saya sekarang, pemegang saham Sharp Knees Capital & Co (maksudnya Perusahaan Modal Dengkul Tajam, gitu lhoh) saya musti berhitung.
Kelas satu aja, yang satu ruang berdua. Lebih murah pastinya.
Cilaka, penuh!

The Doctor’s speaking.
+/+ : “Hasil test darah, urine dan feces menunjukkan ini positif Hepatitis A. SGOT nya tinggi sekali pak, normalnya 35 ini 1700. Tapi biasanya kalau matanya kuning demamnya berhenti. Jadi kita tunggu test susulan...”
(suster datang dengan lab report terbaru)
+/+ : “Oh ini dia. Typhusnya positif”
Jam 12 malam si kakak dibangunin untuk menandatangani konsekwensi treatment antibiotic yang akan digelontorkan lewat infus kedua, yang biayanya (itu yang dimintakan kesepakatan) huhuhuuuuuu......
Ya udah ditandatangani aja.
Seraaaaaah deh.
Malam itu tergeletak pasrah.
Jam 5.30 dibangunkan suster untuk mengganti sprei, ukur suhu, ukur tensi dan melap badan. Mana mungkin bisa tidur lagi.
Jam 6 pagi adalah momentum akbar untuk makan gudeg. Sambel krecek, tahu kenyal, telur pindang, ayam suwir-suwir dan.... pintu di ketok petugas gizi mengantar sarapan pagi : bubur putih polos dengan telur rebus !
Seraaaaaaaah deh.


Batman Begins
Hari ketiga dilepas mandi sendiri.
Begitu saya menikmati kucuran shower dengan mata terpejam, mendadak saya melihat lubang bersinar terang sekali dalam kegelapan retina saya. Seperti point of view Batman waktu kecil yang terjerumus dalam sumur melihat ke langit. Mulut gua atau mulut sumur dengan sinar turquoise kuat sekali.
Saya menikmati sinar itu karena memang bagus warnanya (art directed), dan kemudian ada sinar yang lebih kecil tapi tajam ditengah sinar turquoise tadi. Selama hampir 10 menit mata terpejam saya menikmati sinar berwarna itu. Komposisi hue, saturation, color balance dan segala teori Newton serta treatment Photoshop, adobe Light Room atau Aperture ada semua di situ.
(Ini ngomong apa ya?)
Dan ketika mata saya terbuka, lubang sinar tadi menabrak dinding keramik dengan reversed color menjadi bintik kuning yang besar.
Saya melihat spot kuning di dinding kamar mandi, terang...seterang sinar di lubang sumur Batman tadi. Saya mengedip-kedip dan yellow spot itu tidak hilang.

Harapan semu.
Jumat atau tepat seminggu dr. Azwar menghibur bahwa semua sudah baik, sudah oye, tinggal besok pagi sekali lagi ambil darah untuk di check. kalau sudah baik siang bisa pulang.
+/+ : “Tapi bukannya orang Jawa tabu ya pulang hari Sabtu?”
Dokter ini orang Padang, dan saya yang Jawa malah nggak tau masalah itu.
Sabtu dini hari saya siap diambil darah.
Sorenya si pak dokter melemaskan harapan.
+/+ : “Typhusnya belum hilang. SGOT dan SGPT sudah turun drastis. Bilirubin 1.5 9mustinya 1) tapi Gamma GT kok naik ini. Jadi jangan pulangnya besok aja dengan syarat di rumah musti istirahat dan diet ketat. Jangan kerja dulu!”
(Terus, gimana saya bisa gajian?)
Orang Jawa memang nggak boleh pulang Sabtu.

Sampai hari ini keinginan makan gudeg dengan ayam suwir-suwir, tahu kenyal gempi, telur pindang kehitaman dan sambel goreng krecek serta nasi kemebul itu belum juga kesampaian.
Meskipun gudeg adalah makanan tanpa gizi (gimana bergizi wong enaknya dinikmati kalau sudah dipanasi 2 hari - tapi ya gitu deeh), gudeg memang tiada duanya.
Selamat makan bubur sagu. Ealaaah Cong...Cong!

Friday, February 22, 2008

“Brand personality. What personality? Say again?” - Latte or decaf?

Ini kenapa sih ya dari tadi sepanjang jalan tol disalip, dipepet, nyaris disrempet... awas kalau dibaret (rhyming...:P)
Lagian masih jam 8.00 pagi ngapain pada pecicilan, toh nanti end-up nya di gerbang tol (psst...di sanalah saya biasanya memotong para penyalip itu - strategi Schumacher di lap terakhir).

Beberapa bulan ini saya perhatikan tipe-tipe mobil yang suka bener menyalip, memepet dan nyaris menyerempet.Dan pelakunya kok ya tipe itu-itu juga, heran!

Biasanya saya nggak pernah rela disalip mobil yang powernya lebih kecil. Siapa elu, kan? Pokoknya asal di kaca spion terlihat mobil yang nggak mungkin menang dipacu ngelawan mobil andalan saya yang segitu-gitunya ini, gak bakal saya kasih jalan. Mau klakson, mau kasih sign, lampu kedip, atau nyemprot air bila perlu...no way. (“No way” artinya gak ada jalan kan?)
Atau kalau enggak saya giring ke kiri biar dia nyelip dari arah kiri trus kepentok mobil di jalur kiri, dan saya tetap berjaya leading the way.
Jahat sih.... but that’s the trick.

Oli saya aja Mobil-1 bukan Top-One yang iklannya kayak 'aduuuh' itu (ini kok banyak kata repetitifnya seh...)

Lain halnya kalau yang terlihat dari belakang adalah mobil2 Eropah, dengan hormat saya musti tau diri (selain pengin punya yang begituan juga sih. Huh, itu toh cuma produk. Kata bapak saya dulu “Iku mung perkoro kadonyan” - masalah duniawi. Nggih paaak...tetep aja saya pengin VW Toureq).
Nggak mugkin lah saya berpacu dengan mereka yang powernya berpuluh-puluh kuda.

Tapi ini lho....
Mobil cilik-cilik kemlinthi mlintar-mlintir sok aksi.

Berikut adalah ranking merek mobil (dari observasi beberapa bulan itu), yang bertingkah laku “keliru” di jalan tol:

1. Yang pertama, produk hasil kolaborasi Toyota dan Daihatsu. Ini bener-bener sok trengginas (saudaranya ‘trenggiling’) seolah-olah alergi kalau ada mobil di depannya. Posisi ini dulu diduduki oleh mobil keluarga keluaran Sunter.
2. Yang kedua mobil generik keluaran Honda, mereknya seperti nama jenis musik (mau ngomong Jazz aja mbulet). Entah kenapa ini kok ya sok gesit, wong cc-nya aja gak cukup buat bayar uang kuliah (konon banyak pengendaranya mahasiswa) kok pencilakan (maaf nggak ada padan katanya di i-Dictionary).
3. Yang ketiga, itu tadi mobil keluarga keluaran Sunter. Posisinya turun menjadi peringkat ke tiga setelah keluar model yang lebih alusan dan inovatif (bilang aja Innova !)

Top dah pokoknya.
Tapi belakangan kalau dipikir lagi, ngapain juga merespons mereka ya?
Saya malah lantas tertantang untuk mencoba mempelajari kira-kira seperti apa saja sih para pengemudinya?

Mobil yang pertama.
Okelah, mungkin itu mobil pertama (the first car) yang mereka miliki. Tanpa bermaksud negatif atau tidak sopan (sumpih, enggak!) saya bisa kok memahami excitement nyetir mobil pertama hasil jerih-payah dan kerja keras. Nyelip kanan kiri, di geber bahkan kalau bisa diputer kayak bianglala di Dufan, muter deh situ. It’s fun, it’s good for you. Go ahead.
Mobil ini punya personality : gesit hiperaktif (agak rhyming juga sih).

Mobil yang kedua.
Sedan gitu loh. Belinya indent pula, susah kan dapetinnya? It’s my own car, young generation. Energi meluap. Menyandang personality yang muda, yang dinamis (kayak slogan rokok jaman dulu). Dibeli dengan my own income, bangga dong! Dan kok ya irit dan enteng pula. Jadi kapan lagi digebernya? (Mas-mas, nitip pesen nggih...niku gampang ngglimpang lho mas...ati-ati mawon nggih).

Mobil yang ketiga.
Pengakuan yang sahih bahwa inilah mobil keluarga indonesia. Horeeee..... Jadi ya ngak bisa dong kalau ada anggota keluarga yang terlambat diantar atau dijemput... Ya harus ngebut dong ah. Kalau jebol toh murah spare part-nya. Monggooo...sak karepmu.
Impresi personality yang saya tangkap : bertanggung jawab.
Cieeee...... plok-plok-plok.


Agak terhibur juga saya bisa mereka-reka sebuah pemahaman tentang personality dan tingkah-meningkah, laku-melaku mobil-mobil itu.
Kayak kerja di advertising rasanya :P.
Tapi kenapa postingan ini gambarnya gak matching?
Art direction problem!
'Gak tak naikin gajinya lo...

Wednesday, January 30, 2008

“I wanna fish stew” - Does it match with espresso?

Kalau ditanya siapa orang yang paling kreatif di seantero dunia saat ini?
Siapa tokoh paling aspiratif saat ini?
Ingin seperti apa saya sebenarnya?

Jawaban saya bukan David Droga, Andy Greenaway, Suthisak Sucharittanonta, apalagi Neil French. No way!
Tokoh idola saya adalah Jamie Oliver, yang membuat saya menyesal kenapa dari kecil ibu saya merasa tabu mengajarkan anak laki-laki memasak.
Lihatlah Jamie, lewat culinary expertise menyatukan dunia lewat perut dengan style tertentu.
Lihatlah Jamie yang (istilah saya ‘making money in a fun way’) keliling dari negara ke negara lewat kendaraan kulinernya.

Bukan, bukan seperti tamasya kuliner di tivi-tivi lokal yang low quality itu.
Bukan seperti chef tivi Anu yang nggak pede dengan apa yang dia masak dan berusaha keras meyakinkan penonton bahwa sesungguhnya dia bisa masak. Sesungguhnya dia dibayar untuk pura-pura masak.
Bukan juga road shownya presenter kuliner lokal yang berusaha membuat style dan idiom tertentu dengan shooting ala kadarnya.
Bukan juga proposal bisnis media yang berusaha menarik brand untuk beriklan di slot kuliner atau acara masak memasak yang mengajarkan teknik menyayat ikan salmon secara keliru.

Jamie Oliver setara Anthony Bourdain dan Nigella Lawson.
Expert. Artist. Cook. Stylish. Taste.
Jamie punya kitchen di kebun belakang rumah.
Jamie punya kebun strawberry, selada dan paprika sendiri di ‘behind the stage’ nya.
Sementara di panggungnya yang sebenarnya Jamie dengan penuh gusto menyajikan resep yang selalu baru dan sarat ide (mari bandingkan dengan bisnis advertising) yang ‘straight forward’ menggugah selera penonton untuk bereaksi interaktif dengan apa yang dia visualkan.

Saya kagum Jamie karena simplicity nya, of course.
Terlebih dari itu, karena ide segarnya yang tidak pernah habis - yang dengan VW combi merangkap kitchennya keliling Italy, mampir ke biara membuatkan sarapan pagi dan menggelar menu sehat di pinggir jalan, mencegat semua orang yang mau makan pagi gratis.

Kemarin pagi bangun tidur saya terkaget-kaget melihat Jamie di TV.
Tukang masak ini ada di panggung live show, mengemas skill sedemikian hidup, menggabungkan musik, kuliner dan pemecahan rekor membuat adonan pasta terpanjang sambil tidak lupa mendemonstrasikan menu kreatifnya. Di layar lebar ada text lyric seperti karaoke : “ I wanna fish stew.....”
Jamie berjingkrak. meloncat bernyanyi, kembali ke belakang stove nya mengaduk fish stew. Penonton di studio sebesar studio Empat Mata (kok Empat Mata?) ikut bernyanyi “ I wanna fish stew....”
Dan alamak...anak itu bisa main drum mengikuti beat lagu. Penonton histeris.

Barangkali inilah brand advertising yang dikemas lebih wise.
Dan Jamie Oliver - si brand itu - menanam idenya di kebun belakang rumah untuk tumbuh dengan sendirinya tanpa menggantungkan keterlibatan David Droga maupun Neil French yang dipuja seperti dewa.

Thursday, September 20, 2007

“John Lowbatt Power’s crap” – early morning trap

Seorang teman –pengusaha bisnis media – mengirim pesan Adium :
o/o : “Kok Kopilova nggak pernah diupdate?”
x/x : “Sik yo..”
o/o : “Ngantuk tur ngelih ki, gak ada bacaan…”
(padahal di status Adium saya tertulis SATE BABI DAN SEBOTOL HEINEKEN – tapi toh percuma, dia puasa)

Pesan tambahan teman tadi bilang agar saya nulis yang lucu karena katanya dia sedang lemah mental. Udah lemah, mental pula.
Walah… hidup saya sudah sangat wagu untuk membuat hal-hal lucu.
(untuk yang nggak ngerti istilah bahasa ibu kami, ya maaf)

Yang bisa saya lakukan cuma mentertawakan kebodohan diri sendiri, paling tidak masih ada cara menghibur diri.

Suatu hari (halah, openingnya aja udah nggak lucu!) di Hotel Four Seasons Singapore menjelang meeting waktu saya masih baru-barunya menjadi Creative Director (emang sekarang jadi apaaaaa? Jadi guyon!).
Dari hari kemarinnya saya sudah diwanti-wanti sama Managing Director yang bule itu untuk jangan sampai terlambat bangun pagi, dan biasakan datang ON TIME.
Maka menjelang tidur saya pesen kepada si Mas Morning Call (itu lho suara yang membangunkan pagi-pagiiiii sekali di telpon) untuk membangunkan saya jam 6:00.
Tibalah waktunya turun untuk makan pagi di coffee shop, dan memastikan bahwa hari itu bahasa Inggris saya akan lancar (ada hari-hari tertentu dimana bahasa Inggris saya macet, meskipun saya pernah sekali seumur hidup terbukti sukses memarahi CD bule sambil menuding-nuding hidungnya).

Nah, terjadilah awal ‘petaka’ pagi itu.
Lha kok ndilalahnya, begitu masuk lift di sana ada pak Michael Conrad – Worldwide CD yang akan memimpin meeting nanti.
Pucet seketika.
Saya terjebak dalam basa-basi haha hihi dan pak Conrad menyeret saya untuk makan pagi semeja sambil nanya ini itu.
Hadoooh…

Seketika saya ingat iklan John Robert Powers yang menawarkan table manner dan pelatihan kepribadian – yang menurut saya hanya berlaku buat orang-orang yang tidak punya kepribadian, atau malah berkepribadian ganda.
Di atas meja ada sekian banyak sendok garpu dan pisau cutlery yang seketika menjadikan saya sangat ndeso.
Serbet saya tebarkan di pangkuan saya (semata-mata karena saya ingat Mister Bean saat makan), celingukan sedikit ke kiri kanan.
Nah…salah kan?
Ternyata saya belum ambil makanan! Mau ngremus piring? Asu tenan, pagi-pagi udah salah, gimana nanti siangnya?
Saya ambil sekenannya sambil menunggu pak Conrad yang berjas rapih duduk di seberang saya.
Dengan hati-hati saya memotong telor mata sapi - yang meleset kesana-kemari saking licinnya – dengan pisau dan garpu.
Tinggal makan aja susahnya minta ampun, apalagi mencari makan?
Tertolong bahasa Inggris yang lumayan lancar, saya mampu ngobrol dengan pak Conrad.
Mendadak saya lihat si Pak-e yang rumahnya di Frankfurt ini mencomot makanannya dengan telapak tangan dan mengemploknya begitu tanpa menggunakan jurus John Robert Powers sama sekali.

o/o : “This is the way I enjoy my meal. I am sorry” katanya.

Ealaaah…mbok ya bilang dari tadi kek, kan saya bisa duduk jegang di kursi. Kalau gitu aja mah situ pasti lebih ndeso.
Situ nggak tau SGPC kan?

Thursday, July 19, 2007

Kitsch Cam – Sugar? One or two?

Beberapa bulan belakangan ini saya semakin heran dengan pemandangan di seputar saya. Siang-siang jam makan banyak yang menghilang ke toko kamera. Bergantian mereka membelanjakan 10-20 juta rupiah untuk sebuah kamera digital, hanya karena “teman sebelah sudah punya seri terbaru”.
Ah, ternyata saya salah.
Gejala seperti ini ternyata banyak terjadi juga di kantor teman-teman yang lain, dan di kantor temannya teman-teman yang lain. Menyerang seperti wabah, menghidupi toko-toko kamera yang melayaninya sampai seperti restoran cepat saji – dibikin paket harga hemat dengan lensa standar atau body only yang cenderung membingungkan mereka yang sebenarnya duitnya tanggung.
Tapi mungkin yang penting kan menenteng kamera kemana-mana, bikin klub dadakan atau ikut kursus-kursus instant (yang membuatkan bisnis baru buat pengursus) tentang bagaimana mengukur cahaya dan exposure.
Euphoria….
Berlomba-lomba ikut lomba atau berburu bareng memotreti perempuan setengah, tigaperempat, lima perenam atau seratus persen telanjang dengan dalih berkesenian. Ini modus operandi lama!
Mungkin ini yang dulu disebut Pak Umar Kayam sebagai ‘kitsch’, seni yang dikemas. Dipaket-paketkan, dijual eceran atau dipamerkan dengan upacara-upacara populer.
Yang mengenaskan, seorang teman di kantor lain nggak boleh ikutan hunting karena kameranya cuma pocket kecil Canon IXUS. Pokoknya harus SLR yang lensa yang panjang-panjang nyeruduk sana-sini. Hadoooh…
Ada lagi kubu-kubu nggak penting, pemakai Nikon dan pemakai Canon bersitegang saling mengunggulkan barang masing-masing. Hah, ‘barang masing-masing’?
Nggak penting banget deh pokoknya.

Seperti beberapa tahun lalu, gejala yang lain juga pernah terjadi.
Ada kelompok tertentu yang kemana-mana membawa stick golf di bagasi mobilnya, atau paling tidak membuat gaya berdiri yang berbeda dengan seolah menggenggam grip dengan benar, swing dan bing-bang!
“Driving yuk…”
Whooaa… gayamu, jancuk!
Ternyata belum berani turun ke green.
Ternyata masih pleyat-pleyot belajar mukul (atau menggengam?) yang benar to?
“Asu tenan. Kemlinthi !” kata sesama teman sedaerah asal –yang belakangan saya tahu ternyata dia ikut-ikutan juga.


Untung saya nggak main golf sehingga nggak bisa kemlinthi.
Untung saya cuma main kamera untuk menangkap obyek yang menurut saya menarik untuk dimasukkan ke dalam framing, diekspos, diedit, sebagai perpanjangan naluri berkesenian kecil-kecilan. Obyek yang saya terjemahkan sebagai texture dan gesture, karakter dan komposisi, gelap dan terang, kemeriahan warna dan kepucatan sifat. Tidak lebih dan tidak kurang.
Kamera yang cuma saya surukkan di ransel dan baru terpakai setelah sekian lama mengamati obyek dengan mata telanjang.
Mencoba membuat batu yang tidak menarik menjadi lebih dari sekedar batu. Mencoba menangkap isi hati penjual pioh (daging penyu) di Petak Sembilan setelah nanti dagangannya habis. Mencoba menangkap jatuhnya bayangan pada kaki pilar sambil membayangkan seolah-olah diri saya berada di Austria sana, atau menggaris bayangan jendela yang terabaikan dengan memberi kontras warna yang sebenarnya sudah diberikan di sana. Things like that lah… Leica anyone?

Friday, July 13, 2007

Simply Objective – It’s about pouring thing…

Mbak D.O – seorang human resources director sekaligus membawahi general affair (termasuk menghandel affair-affair di kantor – bahasa opo to iki?) geram sampai gemetaran masuk ke ruang meeting manajemen sebuah ahensi (agency-red).
“Can we talk about this matter?” katanya berapi-api kepada managing director Swedia.
“Yooo…what matter? We are discussing about our revenue now” jawab si Swedia.
“Have you observe our toilet bowl lately?” si mbak makin sengit.
Si Swedia heran, apa yang terjadi dengan toilet? Dia tau sih kalau si mbak barusan pamit dari ruang meeting untuk ke toilet.
Lalu si mbak seperti biasa berbicara meledak-ledak.
“Itu ya… para laki-laki kalau nggak bisa kencing lurus mendingan jadi banci aja!”

Semua yang mempunyai penis saat itu menoleh serentak ke arah si mbak.
“Yo’opo to?”
Muka si mbak masih merah. Dia menjumput risoles sebelum meneruskan protesnya.
“Para lelaki di kantor ini nggak mau mengangkat dudukan toilet, langsung aja kalau kencing cuuuur….belepotan kemana-mana. Jijik tauk…!!!”

Semua yang mempunyai penis serentak tersipu girang (kombinasi aneh, tersipu dan girang). Si mbak semakin antusias.
“Makanya kalau nggak bisa lurus, dipotong aja!”

Sebenarnya protes si mbak beralasan sekali. Waktu itu toilet kami hermaphrodite (satu lubang dipakai laki dan perempuan maksudnyaaa…).
Alangkah tidak enaknya para wanita yang harus duduk di toilet dengan pantat lengket-lengket kena flek bekas kencing para lelaki sekantor.
Kalau disiram dulu kan pantatnya jadi basah dan dingin.
Pilihan yang sangat tidak enak : kering lengket atau basah dingin?

Esok harinya si mbak menyebar email dengan kekuasaannya sebagai direktur HRD tentunya.
Membuat peraturan tentang tata cara dan tata krama menggunakan toilet khusus ditujukan oleh kaum berpenis (meskipun dia bukan lelaki – ndak penting to?).
Kurang puas dengan email, dia tempelkan peraturan itu di pintu toilet (ambiant media hahahahaaa...)
Celakanya….oalah mbak…mbak… peraturan itu dicoret-coret, diplesetin kata-katanya (terbukti bahwa plesetan adalah bagian dari budaya negeri ini), yang membuat si mbak kembali berang dan membawa isu itu di meeting menajemen bulan berikutnya.

Belakangan di negeri tetangga.
Di sebuah urinoir lelaki (nulisnya gimana sih, ntar diprotes kalau salah eja) di Asia Pacific Videolab di tempel stiker yang mengatasnamakan komunitas penunggang Harley Davidson (atau Harson Davidley?), ada logonya segala :

“We aim to please. So please aim properly”

Setiap kali ke tempat itu selalu ingat si mbak. Ternyata sama saja. Para pemilik penis memang kurang ajar (regardless mereka lelaki atau bukan).
Dasar orang iklan, udah jelas objective-nya simple, diminta kencing lurus kok ya masih diputar-putar eksekusinya, huh! Terbiasa mikir complicated!
(Melengos and … cut!)

Wednesday, July 04, 2007

“Wet towel on the bed” – spilled robusta

“The beauty of staying in the hotel is….” begitu seorang film director yang mobilitasnya tinggi membuka pembicaraan yang langsung saya potong.
Saya tahu yang dia maksud. Saat kita meninggalkan kamar, semua dalam kondisi berantakan. Bathrobe di lantai (lho kok di lantai?), handuk di kursi, remote control entah di mana, celana terbang ke atas telpon dan sebagainya, dan sebagainya.
Pergi ya pergi aja. Dan sore hari begitu kita masuk kamar lagi, semua tertata bersih. Linen putih halus dengan matras yang kayaknya ambles kalau ditiduri (baca : ‘matras’ yang ditiduri –red), bathrobe sudah digantung di kamar mandi, handuk-handuk sudah baru, kamar berbau segar (baca : ‘non smoking room’ – red), bantal mengundang untuk ditiduri (baca : ‘bantal’ –red) dengan kuncup bunga teratai atau mawar putih di atasnya. Dududududuuuuuu…. deh pokoknya.

Padahal…
Ibu saya dulu selalu menjewer anak-anaknya kalau kami meninggalkan handuk basah di atas tempat tidur sehabis mandi dan berrr…pergi begitu saja. Dan kejadian itu terulang terus hampir setiap hari sampai kami dewasa.

Ya tapi begitulah mungkin esensi dari bisnis layanan, setelah dapat kamar, tinggal suks-suka, diberantakin, yang penting tidur lelap. Kalau toh ada yang ngerapiin ya itu tugas house keeper lah…

Apakah house keeper bisa tidur lelap?

Lelap kan merek obat untuk tidur berkualitas, paling tidak begitu kata iklannya. Kalau Diapet obat diare. Nah kalau Merit (slim : bhs. Jw) obat pelangsing. Terus apa hubungannya dengan handuk basah?
(Siapa bilang ada hubungannya?)

Menghubungkannya adalah… begitu banyak merek yang dibuat sedemikian gamblang menceritakan benefitnya, bahkan secara brutal menyingkat benefit itu menjadi merek. Diapet dari kata ‘diare mampet’, misalnya. Antangin short cut dari anti masuk angin. Atau Kurang Asem, Jesscool (anjrit!), dan sebagainya.
Ada satu merek namanya Geliga (saya lupa itu apa), singkatan dari ‘geli-geli juga’?
Mungkin suatu hari ada merek Meringis, Monyong, Kupret, Semut, Kerokan dan lain-lain yang siapa tahu beneficial buat produknya.
Terus bagaimana mengkomunikasikan agar merek itu tumbuh? Ya, itu tugas agency untuk menyingkirkan handuk basah, menyampirkan bathrobe hingga memberi sentuhan akhir bunga di atas bantal.
Pemilik merek kan penyewa kamar, yang menyewa berdasar klasifikasi jasa layanan dan harga.
Pernah ada seorang klien yang datang ; “Saya punya uang 2 milyar buat bikin produk pembersih lidah. Saya beri nama Tangkliner” (Tongue Cleaner – nah lo…ada lagi kan singkatan-singkatannya hehehe, dibilangin gak percaya).
Pak klien tadi tidak memikirkan sampai kapan mereknya akan dikembangkan. Bagaimana dia mikir, lha wong dia cuma mau invest 2 milyar aja kok. Begitu balik modal ya sudah, sukur-sukur laba dikit.
Tangkliner dibuat dengan stainless steel, berupa pelat tumpul yang melengkung huruf U, mengingatkan kita pada peralatan dokter-dokter jaman dulu yang dibakar dengan spirtus sebelum dipakai.
Dalam waktu dekat, merek-merek penerbit pasta gigi membuat produk sejenis dari plastik yang dijual jauh lebih murah dibanding stainless teel.
Bagaimana uang pak klien yang 2 milyar itu? Embuh!

Munghkin begitulah nasib merek-merek spontanitas yang tidak didisain hidup untuk jangka panjang, sehingga teori brand building nggak laku diaplikasikan. Yang laku adalah teori taktis berkelit mlintir elastis.
Bahkan beberapa merek sengaja dibunuh di perjalanan begitu melihat market mulai jenuh, dan si pemilik modal membuat merek baru, mungkin di kategori yang baru pula.

Dan para house keepers dengan rutin melakukan tugasnya, mengganti handuk basah yang ditinggalkan, mengganti linen bed spread yang lebih putih, menggantungkan bathrobe ke tempat semula, membuang kondom bekas (kalau ada) dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi semalam, menyiapkan bantal biar tetap fluffy, dan memberikan sentuhan bunga di aatasnya. Agar si penyewa jasa tinggal dengan nyaman dan hidup suka-suka.

Agak siangan sedikit, para house keepers akan mengetuk pintu untuk melengkapi isi mini bar, menambahkan coklat atau permen penambah gairah sambil bilang : “Have a good day, Mister”.

Ngomong-ngomong permen, teman saya seorang copy writer pernah mengajukan usulan merek permen yang spektakuler bernama : UNTALEN (telan dengan paksa).
Kapokmu kapan.

Wednesday, May 30, 2007

"Adfest, salmon and chicken masala" - The most boring thing

Masih terngiang di benak saya beberapa tahun lalu, sewaktu seorang teman – pemilik agency di Jakarta- dengan berang berkata : “Masa’ sih kita nggak bisa menang di sini? Malu banget gue”.
Dia mengucapkan sambil mengunyah salmon yang mungkin terasa aneh di lidahnya, dan sesekali menyeruput Chardonnay yang mungkin lebih terasa aneh lagi.
Peristiwa itu terjadi di gala dinner Adfest, sebuah perhelatan komunitas intelektual advertising di garis regional Asia-Pacific, mulai dari Jepang ke New Zealand, dan dari Vietnam ke Srilanka di ujung sana.

Kepala teman saya tadi terus menggeleng-geleng sambil mengeluarkan kata “Masa’ sih” itu berulang kali. Pokoknya penuh gerundelan dan gerutu.
Setelah saya risih dengan ulahnya dan karena saya juga kepengin menikmati salmon aneh karena harganya yang 500 USD dengan alih-alih ikut Seminar dan sebagainya itu, saya bilang kepadanya :
“Makanya lu juga ikutan ngirim entry, siapa tahu menang”
Saya tahu persis teman saya itu tidak mengirimkan entry apapun, karena semua teman di industri ini mahfum kalau bisnisnya berada pada situasi ‘survival’.

Bagaimana bisa mengirim entry ke forum seperti Adfest kalau yang ada dibenaknya hanya billing yang cepat-cepat bisa ditagih ke klien untuk menggaji beberapa karyawannya, sementara kualitas outputnya dinomor sekiankan.
Mungkin nasib kawan saya tadi kurang beruntung.

Atau, barangkali nasib saya lebih beruntung. Paling tidak saya tidak perlu memikirkan bagaimana menggaji karyawan karena sayalah salah satu karyawan itu, sehingga sebenarnya lebih mempunyai peluang untuk menang di forum seperti Adfest. Yang celakanya hal itu tidak pernah terjadi.

Dari waktu ke waktu saya diam-diam mencatat dan membisikkan catatan saya itu ke tim internal saya di agency.
1. Bahwa eksekusi tidak kalah penting daripada ide. Sebuah keyakinan yang banyak ditentang teman-teman komunitas periklanan sendiri di Jakarta, yang sebenarnya tidak begitu saya pedulikan sampai akhirnya mereka mengakui sendiri betapa ide besar akan nihil tanpa didukung eksekusi yang prima.
Sayangnya pengakuan itu terjadi di Adfest tahun berikutnya. Jadi, ya tetap saja kalah.

2. Bahwa ‘size does matter’. Sebuah strategi mensiasati juri bahwa display print ad dan poster yang berukuran besar akan lebih dilihat dibanding dengan menempelkan proof print apa adanya di atas selembar karton yang ‘kiwir-kiwir’.
Beberapa teman di agency multinasional sangat menyetujui hal itu, karena mungkin itulah yang diajarkan oleh forum CD Meeting di network masing-masing.

3. Bahwa subtitle untuk entry TV adalah sesuatu yang amat penting, mengingat komposisi Juri yang sangat beragam bahasanya, dan jangan pernah mengagungkan bahwa Bahasa Indonesia akan gampang dimengerti di sana.

4. Bahwa bahasa visual dan simplicity adalah kesempatan untuk mengambil hati Juri, meskipun sewaktu saya menjadi Juri di sana sempat ada komentar : “I miss a long copy ad”, yang hanya disambut dengan senyum Juri-Juri lainnya.
Celakanya ketika hal itu dilempar di milist, timbullah dikotomi antara copy based dan art based, sebuah polemik yang memboroskan enerji.

Semenjak komunikasi berubah tidak lagi massal dan ide dikembangkan dari potensi medianya, maka Adfest menjadi lebih menarik.
Eksplorasi contact point sebagai media menjadi seru dan menggelitik, membuka perspektif pemikiran penggunaan media-media baru seiring perkembangan bisnis media itu sendiri.
Aktifasi brand menyusul sebagai fokus pembahasan di Adfest berikutnya, meninggalkan media konvensional.
Print sesekali masih menakjubkan, TV belum kehilangan pesonanya, namun lihatlah Adidas dengan Flying Soccernya mendadak menimbulkan efek “Blar!” yang mengejutkan.

Efek “Blar!” itu jugalah yang mewarnai beberapa entries Adfest 2007 bulan Maret lalu dan seketika membuat print/poster menjadi sangat dingin dan tidak menarik.
Memenangkan metal dari single print tahun ini saya rasa bukan sesuatu yang sangat aspiratif – meskipun toh tim saya juga tidak memenangkan apapun – dibanding misalnya dengan apa yang dilakukan oleh batere Panasonic dengan enerji pesawat terbangnya.
Kebesaran sebuah kampanye tidak lagi dilihat dari ‘piece by piece’ penggunaan media, tetapi dilihat dari totalitas cara mewujudkannya menjadi sebuah grand event, grand activation.
Passion kreatif tidak lagi dari ide seorang art director bersama partner copy writernya dalam sebuah single print ad, tetapi pada gagasan merealisasikan menjadi sebuah proyek besar yang punya gaung membuat sebuah perubahan yang tidak kalah besarnya dengan proyek itu sendiri.
Proyek yang akhirnya sangat tergantung pada passion seorang Project Leader untuk direalisasikan sebelum keburu basi tidak tereksekusi.
Proyek yang membukakan perspektif baru tentang sebuah pola pemikiran dalam mengkomunikasikan produk yang jauh lebih advance dibanding dengan mengiklankannya dengan cara-cara lama.
Situs seperti YouTube sekarang menjadi situs tempat mengintip bagaimana merealisasikan sebuah proyek besar, dibanding situs iklan-iklan cetak yang di forum Adfest Maret lalu menjadi ajang duplikasi sekian banyak ide yang cenderung membosankan.
Kekecewaan saya berujung pada kategori radio (selain TV yang tidak begitu hot, dan kekalahan saya untuk yang kesekian kali, tentunya!), di mana dan entah kenapa radio yang semula saya berharap bisa unik karena diversifikasi bahasa, ternyata tidak lebih dari pembacaan skrip yang datar dan melupakan kaidah-kaidah audio yang dimilikinya.
Menang di kategori radio Adfest tahun ini sungguh tidak lebih membanggakan dibanding menang di forum lokal.

Seandainya teman saya yang dulu menggerutu hadir di bulan Maret lalu, mungkin dia akan saya seret ke restoran India “Alibaba” di pinggir jalan daripada membanjiri gala dinner Adfest yang terhormat dengan sumpah serapah yang tidak jelas. Paling tidak di restoran “Alibaba” bisa menikmati chicken masala yang enak dengan segelas besar bir untuk mendinginkan kepala masing-masing.


Gandhi Suryoto, untuk Addiction

Wednesday, May 23, 2007

“Giggling after Googling” – Get Stoned!

Entah kenapa saya percaya begitu saja ketika seorang teman bilang bahwa batuan mineral yang cocok buat saya adalah Amethyst – sesuai dengan karakter dan kelahiran saya. Hualah, karakter!

Celakanya kepercayaan itu sudah berlangsung lama. Bahkan sejak jadi mahasiswa seni rupa sudah ada semacam hobby hunting batuan yang berwarna ungu itu.
Mencoba membuat tafsir tentang kedalaman ungu yang misterius itu, seperti membuat review sebuah lukisan yang sebenar-benarnya tidak pernah saya pahami secara utuh.

Terus terang warnanya mengagumkan.
Dan karakternya itu lho :P

Sampai minggu lalu datanglah sebuah konfirmasi :
x/x :“Tapi kayaknya your birth stone bukan Amethyst deh, tapi Diamond”
o/o : “Hah?”
x/x : “Don’t hah me”
o/o : “Heh?”
x/x : “Nah, apalagi heh me”

Sik to. Sik to. Bentaaaar…
Tak cari di Google sebentar.
Nah iya! Amethyst itu Pebruari. Kalau April itu Diamond. Wuaaa….

So, my dear Boss,
I just found that my birth stone actually is diamond.
That’s why I am expensive laaah….

(Emploken!)

Thursday, April 05, 2007

::Dear Mister Langdon:: - Viva Cryptology.

Kalau Anda senang mengenakan kaos oblong Yogya ‘Dagadu’ yang terkenal itu, jangan pernah berpikir untuk terasosiasi dengan mata indah mengerjap-kerjap, berbinar menggetarkan, seperti tampilan visual logonya.
Bisa jadi Anda yang bukan ‘Yogya Asli’ – promonya memang terkesan rada rasialis :p – tidak tahu bahwa sebenarnya Anda sedang dimaki, atau memaki seseorang

Berawal dari bahasa sandi para preman dan kaum bromocorah di Beringharjo, ShoppingCenter, Bausasran, dan daerah ‘favorit’ lainnya, mereka menciptakan dialog yang tidak dimengerti sembarang orang kecuali komunitas gelap mereka untuk memperlancar operasi jahat.
Tetapi terbukti bahwa faktor intelegensia menentukan kerahasiaan terminologi bahasa yang mereka pakai akhirnya bocor diketahui umum.
Atau mungkin juga karena komunitas Yogya yang sangat mingle dengan tingkat akseptasi tinggi membuat hal yang seharusnya konfidensial menjadi cair secair-cairnya. Mbleber luber basah semua.
Bahasa gelap itu menjadi sapaan bersahabat bagi setiap orang di angkringan, pos ronda, warung gudeg di trotar sepanjang jalan atau (maaf) di daerah remang-remang.

Terbukti bahwa sebenarnya bukan Jacques Suniere atau Robert Langdon saja yang tahu cryptology. Adalah para preman dan bromocorah (baca : gali) yang bisa membuat Langdon ‘pecas ndahe’ (mudah-mudahan Anda tahu artinya) dengan kriptologi lokal yang membolak-balik hingga belok struktur huruf dan ejaan Jawa.

ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga

Adalah struktur normal dan waras. Yang oleh mereka dijungkir menjadi

pa dha ja ya nya
ma ga ba tha nga
ha na ca ra ka
da ta sa wa la

Sehingga sebenarnya ‘Dagadu’ awalnya adalah ‘Matamu”
Tetapi jangan buru-buru senang karena ‘Matamu’ diucapkan sebagai ‘Matamu!’ satu level dengan ‘Asu!’, ‘Mbahmu!’, ‘Dengkulmu!’, ‘Ndasmu!’ dan bagian tubuh lainnya, yang merupakan kata-kata makian.

“Leygi poya, dab?”
“Sacilat, poya padha bil paru”
“Bubudhe tene…”
“Dagadu!”
“Hallaaah…jape-methe”

(How was that Mister Langdon? You will be ‘mlukok’, I believe)

Terlepas dari makian atau bukan, kata ‘Dengkulmu!’ ataupun ‘Dagadu!’ tidak pernah diucapkan secara serius-dalam konteks memaki yang sebenarnya.
They don’t mean it.
Never!

Di Yogyakarta, kata-kata itu adalah makian friendly, seperti halnya menepuk pundak teman yang lama tidak bertemu. Bagian dari hospitality…ehm. Seperti penjaga took di Melbourne yang ramah menyapa :’Where you from, mate? You’re look a bit dark…”
(Ndasmu. Bilang aja kamu kok item sih?)

Yang jelas tidak demikian dengan Yogya.
Lagi pula, siapa sih yang tidak mencintai Yogya? Cieeee….Swiit Suiiiit….

(Brought to you by Yogyakarta Tourism Board. Haiyaah…dagadu!)

Friday, March 23, 2007

“Energi itu bernama Initiative Ad” - Full story

Hampir bisa dipastikan entry CP tahun 2007 akan dijejali dengan begitu banyak ‘initiative ads’, terutama di kategori print.
Ini bukan ramalan tahun baru.
Atau mungkin tidak usah menunggu terlalu lama sampai CP 2007, pergilah ke Pattaya bulan Maret ini dan lihatlah di sepanjang koridor exhibition hall The Peach (Pattaya Exhibition and Convention Hall).
Kita akan segera tahu mana yang iklan beneran dan mana yang iklan sulapan.

Beneran ataupun sulapan sebenarnya dalam forum-forum semacam ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Namanya juga ajang kreatifitas.
Namanya juga fashion show adi busana – haute couture. Di sisi lain toh legal dari segala persyaratan administratif – termasuk membayar, tentunya.

Tiga tahun lalu seorang anggota Juri Adfest di tengah diskusi yang memanas tiba-tiba berkata : ‘I smell scam’.
Semua diam dan tersenyum.

Barangkali terlalu capai kalau kita membicarakan terus yang mana scam yang mana initiative, atau apa perbedaan scam ad dan initiative ad. Tidak akan pernah habis dibahas di milis, situs internet atau forum diskusi terbuka lainnya.

Maka, sebaiknya mari kita lupakan saja perbedaan itu.

Initiative ad sebenarnya bermula dari ketidak puasan, rasa geregetan, proactiveness atau bahkan agresifitas sebuah agensi terhadap agensi kompetitor (termasuk tim kreatifnya tentu) yang hasilnya ‘begitu-begitu saja’ untuk brand yang dirasa menarik. Sehingga harusnya komunikasinya bisa jauh lebih menarik.
Sebuah proposal inisiatif kepada klien agensi lain yang isinya “kami bisa lebih baik dari agensi Anda yang sekarang”, yang ujung ekspektasinya adalah “biarlah kami yang menangani Anda – pecatlah agensi Anda sekarang”.

Initiative ad adalah bagian dari new business task force yang show off – dalam konteks bisnis tentunya. Yang kesuksesannya diukur dari billing yang berpindah ke agensi yang punya inisiatif dan perasaan geram dari agensi yang disudahi karena ‘begitu-begitu saja’ tadi.
Sehingga dengan demikian initiative ad mempunyai akan reputasi yang semakin lebar skalanya dalam perkembangan bisnis agensi berikutnya.
Tim internal akan membuktikan bahwa “kami memang lebih baik” dan lihatlah Mister Client, kami membuat portfolio untuk brand Anda dengan sebaik-baiknya. Begitu banyak pencapaian yang kami buat untuk Anda termasuk award di sana-sini. Bukankah terbukti bisnis Anda berkembang juga?
Silahkan memajang trophy yang kami peroleh di ruang meeting Anda, atau di meja kerja Anda untuk membuat Anda selalu bersemangat (dan tidak lupa kepada agensi kami tentunya).

Sungguh ideal seandainya itu bisa terjadi.

Dalam perkembangannya, initiative ad adalah senjata sakti untuk mengelak approval klien karena toh mereka dibebaskan dari segala kewajiban finansial.
Sebuah representasi dari win-win situation yang masih adil dan sekali lagi sah untuk dikirim sebagai entry di forum sebuah kompetisi. Dan sah pula untuk menjadi pemenang yang membawa pulang trophy.

Hanya saja kalau kita cermati beberapa tahun terakhir dan mungkin satu-dua tahun ke depan di forum kompetisi kreatifitas periklanan akan semakin dipenuhi dengan initiative ads seperti yang saya tulis di awal artikel ini.
Saya menganalogikannya seperti sebuah war game yang sering dimainkan di komputer-komputer di sela-sela pekerjaan.
Kalau peperangan yang kita mainkan semua menggunakan senjata sejenis Steyr Gun, bukankah perang akan menjadi terlalu mudah?
Apakah Anda tidak kangen dengan semangat senjata manual, tiarap di lumpur, atau masuk ke barak musuh dengan kamuflase jerami kumuh namun dengan kemampuan membidik yang akurasinya 100 persen?

Sampailah saya pada bagian yang subyektif di tulisan ini.
Bahwa initiative ad seperti yang saya maksud belakangan tadi adalah forum penyegaran yang tidak boleh dimatikan karena di dalamnya begitu banyak elemen positif; update, inovasi, passion, simplicity, ide segar, grafis, penggunaan media dan segala aura terang lainnya.
Yang akan semakin solid eksistensinya jika mampu membukakan mata hati klien (atau calon klien?) terhadap pemikiran baru.
Yang akan terbuang percuma dan terlupakan dengan segera kalau tidak ditindak lanjuti menjadi bisnis riil yang akan memuliakan seluruh kehidupan di agensi dan kemuliaan kreatifitas dengan potensi yang terkandung di dalamnya tadi, meskipun yang bersangkutan –dalam hal ini adalah si initiative ad tadi- memenangkan sebuah atau beberapa penghargaan.

Sementara dalam kenyataan keseharian kita, yang namanya membuat iklan yang baik penuh dengan penolakan, argumentasi, kefrustrasian serta ‘darah, keringat dan airmata’.
Tetapi sekali saja kita membuat pencapaian terhadap iklan yang baik – tidak peduli di forum award manapun, barangkali rasanya akan jauh berbeda dibanding initiative ad kita meskipun sama-sama membawa pulang trophy.

Konon award winning ad(s) adalah pencapaian total dari sekian panjang perjalanan iklan yang telah membuktikan dirinya lolos dari ‘terjangan badai internal dan eksternal’.
Seperti halnya main war game dengan semangat senjata manual, bukankah ini sebuah eksotisme ?

Lantas apakah salah dengan memenangkan award melalui initiative ad?
Tidak ada yang salah. Karena award winning yang sebenarnya adalah spirit untuk membuat iklan yang sebaik-baiknya. Bukan masalah trophy.

Hanya saja barangkali rasanya beda saat menerima penghargaan itu. Barangkali beda.

(Gandhi Suryoto, untuk Addiction)

Thursday, March 22, 2007